Proses Visa Keluarga ke Australia

Semenjak saya posting tulisan “Meninggalkan keluarga demi S3” sepertinya sudah 1 tahun 9 bulan mungkin kali ya, sampai pada akhirnya visa anak dan istri saya Granted.

Sungguh pengurusan visa keluarga saya ke Australia ini tidak seperti teman pada umumnya, saya harus menanti visa istri dan anak kurang lebih 9 bulan, udah kayak nungguin anak lahir saja hehe. Gimana ceritanya? dan apa sarannya? yuk simak tulisan saya berikut ini.

Saya masih ingat waktu submit aplikasi visa istri dan anak saya itu ditanggal 21 Agustus 2018, dan baru kemarin tanggal 20 Mei 2019 Granted. Silahkan lihat gambar berikut ini.

Submit Aplikasi Visa Australia (anak dan istri) tanggal 21 Agustus 2018
Visa anak dan istri baru granted tanggal 20 May 2019

Total 9 bulan lebih penantian akhirnya granted juga. Kenapa kok bisa begini? di postingan ini saya akan mencoba menjelaskan, semoga bagi pembaca semua bisa mengambil hikmahnya khususnya bagi teman-teman yang berencana studi ke Australia dan ingin membawa keluarga.

Beasiswa saya LPDP memberikan support family allowance (tunjangan keluarga) setelah saya menjalani kuliah 1 tahun, jadi baru bisa mengajukan tunjangan keluarga setelah bulan 13. Karena itulah saya memang berencana membawa keluarga setelah 1 tahun kuliah. Sandungan lainnya juga ada yakni membayar asuransi kesehatan yang cukup besar. Saya bulan Juli membayar asuransi kesehatan keluarga sebesar 10,000 AUD atau 100 jutaan agar bisa apply visa family. Ini ceritanya gimana? ya LPDP hanya cover asuransi single (student) jadi bila kita ingin bawa keluarga jadi harus upgrade asuransi kita ke tipe family dan itu harus bayar seluruh asuransi di awal (sebelum apply visa).

Mungkin bagi teman-teman yg sudah bekerja lama di Indonesia, punya aset mobil misalnya, mereka bisa langsung berangkt bareng keluarga karena punya tabungan. Tapi apa daya saya yg baru lulus S2 dan baru nikah terus langsung punya anak hehe. Ya begitulah… tapi percaya Allah pasti ngasih jalan.

Singkat cerita, Oktober 2018 adalah bulan dimana saya akan genap 1 tahun di Australia, jadi saya berencana membawa keluarga bulan November sehingga saya bisa mengajukan tunjangan keluarga. Kalau hidup bersama keluarga dan tanpa tunjangan keluarga itu cukup berat disini karena tidak cukup living allowance yg diberikan untuk mengcover kebutuhan keluarga. Akhirnya ya itu Agustus 2018 saya apply visa dan sebelumnya Juli 2018 saya bayar asuransi 100jt rupiah hasil menabung selama 1 tahun. Cieeyyyee yang rajin menabung.

Setelah submit aplikasi VISA ke immi account, kita akan dapat HAP ID untuk dibawa ke rumah sakit yg punya kerjasama dg pemerintah australia (dulu saya dan istri/anak ke RS premier jatinegara). Setelah periksa kesehatan bisanya tinggal nunggu beberapa hari visa langsung keluar.

Buktinya? dulu saya hanya butuh 1 hari visa langsung granted. Saya masih inget, submit hari senin langsung dpt HAP ID, hari selasa periksa ke RS premier jatinegara, hari Rabu visa saya sudah granted.

Ehhh.. lah dalah, kok setelah submit aplikasi visa anak dan istri ini ditunggu 3 hari, 4 hari sampai 1 minggu kok statusnya gak ada perubahan. Saya sempat bingung, akhirnya setelah 1 minggu baru dapat telp dari RS Premier Jatinegara kalau istri saya suspect TBC.

Haduh, lansung pusing kepala saya, saya udah tau dan dengar2 dari teman-teman kalau Aussie memang sangat strict dg ini bahkan di saat mendarat di Aussie kita juga harus mengisi form declare termasuk disitu ada form ttg TBC. Saya langsung putus harapan rasanya saat itu.

Lha gimana, istri itu dulu sebelum periksa kesehatan ke RS premier jatinegara, dia udah pernah rongten di RSUD Bogor dan dinyatakan bebas TBC, saat itu istri rongten untuk persyaratan mendaftar beasiswa LPDP yg pd akhirnya gak lolos hhahaa, belum rejekinya. Ditambah istri gak ada gejala batuk, malah jarang sekali batuk dan sehat banget. Makanya saya benar2 shock. Saat itu saya langsung beli tiket dan memutuskan pulang. Kami langsung ke RS dan berdiskusi gmn kelanjutan visa istri ini. Ternyata ribetnya minta ampun.

  1. Istri harus tes sputum (dahak) kemudian nunggu 3 bulan utk melihat hasilnya (inget dulu perjuangan istri jadi sedih, karena istri sy sehat dan tdk bisa mengeluarkan dahak jadi harus diuap segala macam)
  2. Kalau hasil negatif bisa go, klo hasil positif harus treatment 6 bulan
  3. Gileee, total 9 bulan dums
  4. Belum lagi nanti processing timenya, ya Rabb.
  5. Dan yang lebih ribet dan bikin kami sedih adalah, karena kami punya anak dibawah 2 tahun. Fatiha negatif, tp karena tidak mungkin memisahkan fatiha sama ibunya. Maka ketika Ibunya nanti harus treatment, fatiha harus minum antibiotik pencegahan.
  6. Dan yang lebih repot lagi, untuk treatmentnya, setiap hari minum obatnya harus ke RS Premioer Jatinegara dan disaksikan oleh suster.
  7. Tiap 2 bulan nanti ada rongten dan sputum lagi

Ini kan rempongnya minta ampun, sampai saat itu saya sempat ingin memutuskan untuk drop out. Andai kata beasiswa saya itu dari pemerintah Australia, saya sepertinya akan out saja. Lha sudah 1 tahun ninggalin keluarga ya walaupun tiap 4 bln pulang, tp ttp saja tidak enak. Eh ini harus ditambah 9 bulan.

Saat itu saya bertnya ke dokternya terutama ttg point 1. Masa harus nunggu 3 bulan, apa tidak ada test yg cepet dan nanti bisa ketahuan status istri saya? Kata dokternya ada yakni test mantoux, jadi nanti disuntik, terus lihat efeknya klo bengkak berarti positif dan ada beberapa test lainnya semacam sputum yg cepet. Tapi semuanya harus bayar sendiri karena tidak tercover oleh biaya visa. Akhirnya kami memilih untuk itu. Dan ketika melihat hasilnya ternyata memang positif. Ya sudah berarti harus treatment 6 bulan, tapi at least kami tidak harus nunggu 3 bulan baru tau positif atau negatif.

Saya akhirnya putuskan untuk ngekosin anak dan istri di sebelah RS premier jatinegara, jalan kaki hanya 5 menitan. Karena walaupun rumah istri di Bogor, tp klo tiap hari harus ke RS premier jatinegara dan naik KRL kan yo kasihan anak. Benar-benar klo ingat masa-masa itu seakan2 kayak udah mau pulang saja, mau berhenti saja, ndak tega sih. Tapi bagaimana lagi.

Jadi ingat, ini bukan seberapa, nabi Ibrahim dulu diperintahkan oleh Allah untuk membawa istri dan anaknya yang masih bayi ke tempat tandus dan meninggalkan mereka ke situ. Cobaan sy ini masih belum sebanding rasanya.

kalau ingat cobaan ini rasanya benar2 gimana gitu, ngelihat teman2nya juga pada lancar2, eh kok ya saya dapat yang begini, tapi kadang saya mikir. Ketika saya dapat nikmat contohnya dpt beasiswa, kenapa saya jarang berpikir, eh kok saya yang dapat bukan teman sy? Nah itulah manusia mau enaknya sendiri, giliran diuji…. langsung bilang “kenapa saya” hehehe

Saya masih tidak tau apa hikmah dibalik semua ini, yang ada saya hanya yakin semua pasti ada hikmahnya, pandangan manusia terbatas sedangkan pandanganNya tak terbatas. Yang jelas dengan hidup yang naik turun hidup kita akan lebih terasa menantang dan hati akan digembleng. Coba klo hidupnya datar2 saja, semua keinginannya tercapai terus, tidak pernah mengalami kesulitan, kan yo nggak assyiiikk ta… bukankah Allah itu maha asik? hehe.

Nah untuk saran bagi teman-teman yang pingin studi di Aussie dan berencana membawa keluarga, berikut sarannya:

  1. Apply visa via agent saja, nanti tanya agent bisa gak yang test kesehatan dulu sebelum bayar asuransi? mungkin bisa kali ya silahkan bisa ditnyakan. At least ketika ada masalah seperti yg saya alami, masih bisa tanya2 agent. Lha kemaren saya gak bisa tanya siapa2, wong imigrasi aussie juga gak ada CSnya buat nanyain ini.
  2. kalau mau apply visa sendiri, korbankan beberapa rupiah untuk rongten periksa paru2 di RS Premier Jatinegara Jakarta dulu sebelum apply visa. Klo bersih, baru apply hehehe. Kalau ternyata ada suspek TB bisa nyari RS terdekat untuk treatment.
  3. Semoga teman2 tidak mengalami hal yang saya alami ini. Amiin..

Alhamdulillah setelah di granted tgl 20 Mei, hari ini Selasa 28 Mei anak dan istri saya sudah di Brisbane (tadi pagi saya jemput di Airport) hehehe, mohon doanya semoga Allah memudahkan perjalanan keluarga kami baik studinya maupun kehidupan kami disini.

Welcome to Brisbane …

Meninggalkan keluarga demi S3

Tiga tahun lalu ketika saya masih di Chonnam National University, Korea Selatan, saat itu saya masih di semester dua, lab saya kedatangan tiga mahasiswa baru, dua mahasiswa master dan satu mahasiswa doktor. Beliau yang doktor ini adalah dosen di salah satu kampus terbaik Indonesia, saat itu saya tahu beliau berangkat melanjutkan S3-nya ke Korea dengan meninggalkan keluarganya, istri beliau bahkan baru saja melahirkan, jadi baru punya bayi beberapa bulan umurnya. Saat itu saya hanya berpikir, bagaimana rasanya ya? Saya pun sering sharing-sharing juga dengan beliau. Bahkan ada cerita-cerita lucu dari Beliau, beliau bilang ketika mudik ke Indonesia anaknya sampai tidak tahu sama beliau, tapi ketika beliau ngobrol sama anaknya pakai tablet, anaknya pun baru ngeh kalau itu bapaknya, ya karena biasanya ngomong sama bapaknya pakai tablet. Huhuhu, sedih 😥 . Alhamdulillahnya saya sudah mendapatkan kabar kalau beliau sudah memboyong semua anggota keluarganya ke Korea tahun lalu.

Dulu saat saya masih S1, saya juga pernah sharing-sharing dengan salah satu dosen S1 saya. Saya cukup akrab dengan beliau sehingga beliau sering sharing-sharing tentang pengalaman dulu ketika beliau kuliah di Korea dengan beasiswa KGSP, saat itu beliau dapat beasiswa KGSP untuk program master. Jadi total 3 tahun (1 tahun belajar bahasa, 2 tahun kuliah master), tantangan terberatnya adalah beliau harus meninggalkan anak istrinya di Indonesia, karena saat itu anak sudah sekolah, istri PNS yang tidak ada ijin untuk ikut suami. Saya sedih mendengarkan cerita-ceritanya, bagaimana rasanya meninggalkan anak dan istri di rumah dan harus berjuang di negara lain yang tentu kultur, lingkungan, kondisi akademik jelas sungguh berbeda.

Cerita lain juga sering saya dengar dari salah satu dosen S1 saya juga, yang saat ini beliau jadi wakil dekan. Beliau lulusan S3 ANU (Australian National University). Beliau tidak menceritakan dirinya karena memang beliau dulu S3 di ANU belum berkeluarga, tapi beliau menceritakan beberapa kawannya. Beliau bercerita kalau kawannya, sudah jadi direktur di salah satu persahaan di Indonesia, sudah settle, tapi karena istrinya harus melanjutkan PhD ke inggris, dia rela meninggalkan jabatan itu dan keluar dari perusahaan demi menemani studinya istri di Inggris.

Selain cerita-cerita di atas, ada satu cerita yang sebenarnya malah paling dekat. Mertua saya sendiri, Ust Hasim, beliau dulu S2 dan S3 di Prancis. Beliau juga sering cerita ke kami tentang perjuangan beliau dulu, bahkan beliau bilang ya kalau sekarang teknologi sudah maju, ada WA, Facebook dan sebagainya, bisa video call dan sebagainya. Dulu, hanya pakai telp atau surat. Beliau mertua saya ini juga harus meninggalkan istrinya ketika hamil ke Prancis untuk studinya. Beliau menitipkan istrinya yang pada saat itu masih hamil ke keluarga istrinya. Beliau baru memboyong keluarganya ketika anak pertamanya sudah lahir dan cukup umurnya untuk dibawa. Sampai selesai studi di Prancis, beliau pulang ke Indonesia dengan membawa tiga anak, hehee.

Setelah saya resmi dinyatakan jadi Awardee LPDP, dan resmi dibolehkan untuk pindah kampus ke The University of Queensland, tentu saya bersyukur, senang dan bergembira.

Tapi ketika detik-detik keberangkatan saya ke Australia saya tidak menyangka harus merasakan hal itu juga. Kemarin tanggal 19 September 2017, saya harus meninggalkan istri dan anak saya, Fatiha, yang berusia 8 bulan. Sedih memang, tapi bagaimana lagi. Ada beberapa alasan yang membuat kami memutuskan untuk tidak langsung berangkat bareng diantaranya, saya belum paham medan di sini, istri sekarang sedang prepare IELTS lagi karena test IELTS kemarin skornya masih kurang, setelah ini istri juga mau apply beasiswa juga ke sini (semoga dimudahkan oleh Allah), dan yang terakhir adalah OSHC (Overseas Student Health Cover ).

Persoalan OSHC ini ternyata cukup berat dan saya juga baru paham baru-baru ini. Sistem asuransi bagi internasional student adalah langsung begandengan dengan visa. Jadi syarat di approvenya VISA itu ya harus bayar OSHC, jadi misal saya mau PhD selama 4 tahun, ketika mau apply VISA student doktor maka dihitunglah OSHC nya selama 4 tahun itu dan harus dibayar di awal. Bagi yang menerima beasiswa studi ke Australia, rata-rata beasiswa juga sudah mencover biaya OSHC tapi ya hanya bagi mahasiswa tersebut, tentu provider beasiswa tidak menanggung OSHC anggota keluarganya jika ia ingin membawanya. Begitu juga dengan saya, OSHC saya sudah dicover oleh LPDP, tapi ketika saya mau membawa keluarga saya, saya harus membayar OSHC untuk istri dan anak dengan cara upgrade OSHC jadi family. Ternyata karena hal ini banyak juga teman-teman penerima beasiswa di Australia yang akhirnya mengurungkan niatnya untuk membawa keluarga karena terganjal OSHC ini hehee.

Berikut ada contoh perhitungan OSHC.

OSHC untuk 1 orang dari tanggal 20 September 2017 sampai tanggal 17 Mei 2022, total bayar 2,699 yang paling murah.

Tapi coba kalau OSHC 1 adult dan 1 child, dengan jangka waktu yang sama, maka harus bayar 18,000an paling murah.

 

Untuk perhitungan OSHC upgrade family tidak saklek seperti diatas, tapi memang ketika saya tanya beberapa teman yang langsung membawa keluarga ke Australi ketika studi S3 rata-rata harus bayar OSHC diatas 13,000 AUD.

Apapun itu, saya hanya yakin, Allah sudah menempatkan saya di salah satu kampus di Australia tentu Allah pasti akan memberi jalan. Kalau masalah kuat ya kuat saja LDR an sama keluarga karena saya tidak sendiri banyak juga di sini yang LDRan, yang suami harus sering pulang pergi jenguk keluarga.

Saya hanya sedih ketika ingat nasihat dari para asatid saya, apasih yang kamu cari? uang? apapun itu tidak ada yang bisa menggantikan waktu bersama dengan keluarga. Tapi saya kadang juga berpikir tentang beberapa generasi tabiin dulu ketika mencari ilmu, mereka juga sering meninggalkan keluarganya untuk waktu yang lama demi ilmu. Tapi tetap saja saya jadi ingat pula dengan nasihat dari saya sendiri yang saya berikan pada orang yang bertanya ke saya mengenai LDRan. Waktu itu saya mengutip perintah Sahabat Umar bin Khattab RA, bahwa setidaknya tiga bulan lah suami harus balik untuk menjumpai keluarganya. Wa Allahu A’lam..

Semoga Allah memberkahi perjalanan keluarga kami, dan semoga semuanya lancar dan baik-baik saja. Berikut adalah foto saya sebelum berangkat bersama Fatiha dan Istri, besok pas Fatiha saya ajak ke sini nanti saya foto lagi, jadi foto before and after. hehee, jangan-jangan besok foto afternya Fatihanya sudah berdiri sendiri, tidak digendong? hahahhaa

 

Salam hangat,

Brisbane, 20 September 2017