Festival Bunga di Toowoomba QLD Australia

Hi sahabat semua, entah kenapa minggu ini saya lagi cukup bersemangat untuk posting tulisan di blog ini. Kemarin saya sudah posting ttg Keindahan Alam di Stanthorpe dan Pendaftaran Beasiswa LPDP 2019.

Kali ini juga latepost sih sebenernya, ini juga tahun lalu sekitar akhir bulan September 2018 yakni ketika di Australia spring atau musim semi. Jadi bagi sahabat semua yang mau jalan-jalan ke Australia, khususnya ke Brisbane di akhir bulan September jangan lupa untuk mampir ke Toowoomba melihat festival bunga atau flower festival.

Begini ceritanya:…

Saya bersama 4 orang teman, kita rental satu mobil kemudian sepakat untuk ke Toowoomba, sebenernya agak aneh sih, ini cowo semua eh datang ke festival bunga hahaa. Ya klo bapak2 ada anak sama istri mah okey, tapi ini cowo semua lhoo. Yah walaupun begitu kami cowo tapi penyuka buka kok heheee.

Okey kembali ke topik.

Queens Park Gardens, Toowoomba, Queensland

Kurang lebih perjalanannya 1,5 jam jaraknya 120 km. Kami berangkat pagi dari kelurahan kami di St. Lucia. Seperti yang sudah kami duga, yah parkiran penuh! Karena memang festival bunga ini di tanggal tertentu yakni 20 – 29 September 2018, hanya 10 hari. Untuk tahun ini juga sepertinya ditanggal yang sama.

Langsung saja, ini oleh2 atau kenang2annya..

Toowoomba Carnival of Flowers
Laki laki pecinta Bunga hahahaha

Eehhh, setelah kita lihat festival bunga, kemudian beberapa acara di Queens Park Gardens kami juga tak lupa untuk mampir ke Japanese Garden di Toowoomba.

Padahal saya ya udah hidup 2 tahun di Korea, pernah ke Jepang juga tapi tetap penasaran juga, kaya apa sih Japanese Garden di Toowoomba, apa iya sakura bisa hidup di Australia? pikirku

Dan ternyata….

Pohon sakura di Japanese Garden di Toowoomba

Hahaha, sempet kaget sih aku, ternyata sakura bisa tumbuh di bumi Queensland dan itu penampakannya!

Japanese Garden di Toowoomba

Bagus juga pemandangannnya, worth it lah, hanya saja danaunya sedikit keruh, tapi ttp ramai pengunjung dan wildlifenya jg wild life khas australia hehe.

Setelah puas main dan jalan-jalan di Toowoomba akhirnya sore kita pulang dan namannya orang Indonesia ya, tingkahnya aneh2. Kami juga foto di icon kota Toowoomba, ini sebenernya lokasinya dipinggir jalan. Walaupun kami susah cari parkirnya tapi kalau gak foto kayaknya rugi deh. Ini hasilnya…

Toowoomba, The Garden City

Hahaha, gayanya kok kayak orang jadul sih padahal aku kan masih milenial wkwk.

Oke, sudah sampe disini dulu ya postingan kali ini, sampai ketemu di postingan berikutnya. Untuk membaca tulisan saya yang lain, baik yg serius atau yg ttg jalan-jalan di Australia bisa dibaca di sini https://mafrur.com/kuliah-di-australia/

Salam dari tepian sunga Brisbane

Rischan Mafrur

Keindahan Alam di Stanthorpe Australia

Sebenarnya ini postingan yang sangat terlambat, tapi bagaimana lagi memang kondisinya seperti ini. Menjadi mahasiswa S3 yang cukup sibuk dengan load risetnya 😦 kadang sedih sih hehee. Saya cukup sedih karena sering tidak bisa menyempatkan waktu untuk nulis blog, padahal rencananya dulu saya mau nulis novel, ini benar-benar novel ya hehe, kalau buku sebelumnya saya “24 Purnama di Negeri Ginseng” kan genrenya ndak jelas, tapi banyak banget sih testinya yg bilang sangat bermanfaat. Haduh malah promo buku hahaha.

Oke deh kembali ke Stanthorpe….

Tahun lalu tepatnya bulan Agustus saya bersama teman-teman indonesia (rata-rata mereka sudah berkeluarga bahkan anaknya sudah 2 dan 3 udah gede2), saya sendiri yang jomblo hehe, jomblo local sih karena istri dan anak belum sy ajak ke Brisbane, kita bareng-bareng piknik dan camping sekitar 5 mobil ke Stanthorpe tepatnya ke Sommerville Valley.

Sommerville Valley, Stanthrope Queensland

Kalau sahabat lihat peta diatas, tempat saya di Brisbane yang biru itu sedang tujuannya di point merah, perjalanan kurang lebih 3 jam. Ya 3 jam kalau di Indonesia gak tau baru nyampe mana hehe, kalau disini karena tidak macet jadi ya hanya perlu 3 jam kurang lebih 270 KM an lah.

Rencana kita memang mau camping, kita gak bawa tenda tapi mau nyewa cabin di sana yang katanya sangat bagus. Kemudian malamnya mau melihat milky way, kalau ada yang belum tau tinggak clik aja.

Yuk simak perjalannya,…

Ini dia rombongannya

Rombongan tim piknik Indonesia Brisbane hehe (*tidak lengkap)

Ketika di perjalanan sampai sekitaran Warwick, kita lihat ada gereja bagus, akhirnya foto deh


St Mary’s Catholic Parish Warwick

Sebelum kita ke Cabin untuk nginap, kita piknik dulu di Girraween National Park, Stanthorpe Queensland Australia, kabarnya disitu ada batu besar menggantung, dan ternyata begini penampakannya.

Girraween National Park, Stanthorpe Queensland Australia 

Pas foto, eh ternyata saya dilihatin sama Kanguru liar…

Girraween National Park, Stanthorpe Queensland Australia 

Setelah puas piknik, makan-makan, bus walking di Girraween, kita akhirnya menuju ke Sommerville Valley untuk nginep di cabin disana.


Sommerville Valley Cabin

Satu Cabin atau rumah kecil itu muat berapa ya? lupa saya wkwkw. Intinya asik deh, karena fasilitas lengkap disitu ada wifi, microwave, dapur dkk, lengkap pokoknya.

Nah saat malam hari saatnya melihat milkiway, hanya saja tak ada kamera dari kita yang bisa menangkap keindahan langit dan bintang2 waktu itu. Entah karena kameranya atau yg motret yang gak bisa? hehee. Indah banget, tidak bisa diceritakan dg kata2 deh.

Al hasil selain lihat indahnya bintang, kita juga bikin perapian, baka2 berbeque dan tidak lupa bakar ubi ahhahaa.

Sommerville Valley, perapian sampai pagi

Foto bersama dulu buat kenang2an masa tua hehee

Ini dia formasi lengkap, foto sebelum pulang

Sommerville Valley Cabin

Ceritanya bagus sih kalau buat novel, semoga nanti waktuku cukup yah ahaha. Besok tinggal giliran ngajak anak istri pergi ke tempat2 yang lebih asik.

Untuk membaca tulisan saya yang lain, baik yg serius atau yg ttg jalan-jalan di Australia bisa dibaca di sini https://mafrur.com/kuliah-di-australia/

Selamat berpetualang di Australia…
Salam dingin dari Brisbane.

Beginilah Perpustakaan di Kampus Luar Negeri

Halo sahabat semua.

Saya cukup lama tidak menulis blog. Di tulisan kali ini saya ingin berbagi tentang bagaimana fasilitas perpustakaan di kampus luar negeri khususnya di kampus saya yang sekarang yaitu UQ . Sebelum sahabat semua membaca tulisan ini mungkin kalian bisa baca tulisan saya sebelumnya tentang “Perlukah membandingkan Indonesia dengan Negara Lain?“, agar nanti tidak salah paham dengan tujuan saya menulis tulisan ini.

Jadi begini, salah satu tujuan saya kuliah di luar adalah untuk melilhat bagaimana sistem pendidikan di kampus tersebut, bagaimana profesional nya para staff, management, service dan sebagainya. Yang semoga nanti setelah saya balik ke Indonesia, saya mungkin bisa mencontohnya atau menularkan ke yang lain.

Pada kesempatan kali ini saya ingin sharing tentang pengalaman saya menggunakan fasilitas library di UQ. Sejujurnya saya dulu 2 tahun di Chonnam National University, Korea untuk menyelesaikan master, saya sekalipun belum pernah pergi ke perpus hehehe. Ya namanya saja orang IT, semua referensi sudah bisa diakses via online (buku, paper, journal, documentasi dsb). Hal itu ternyata juga terulang di sini hehe.

Saya sudah hampir 1 tahun di UQ dan jujur saja saya belum pernah menggunakan fasilitas perpus, lha klo nyari referensi baik itu jurnal atau prociding kan langsung online dan kampus UQ sudah subsribe ke smua jurnal2 bagus jadi tinggal download deh.

Nah, tapi kenapa saya ingin sharing tentang service di UQ library? padahal saya tidak pernah menggunakans service itu? Ya karena itulah saya pingin share, karena ini pengalaman pertama saya menggunakan service library UQ.

Jadi ceritanya begini sahabat semua. Suatu hari saya dihubungi oleh teman lama yang sekarang dia bekerja di start-up di Bandung. Dia bilang untuk keperluan pekerjaannya dia perlu membaca “Railtrack material standard” dan harganya 112 USD. Dia meminta tolong pada saya, siapa tau di UQ library dokumen ini ada, jadi intinya dia tak perlu untuk membelinya hehe.

Sebenarnya apa yang saya lakukan untuk menolongnya dari sisi policy dan ethic di kampus mungkin tidak boleh kali ya? hehe. Tapi di sini saya hanya ingin sharing bagaimana service kampus di sini! Akhirnya saya coba buka UQ online library untuk pertama kalinya.

Eh ternyata, UQ library punya chat service. Tampilannya seperti gambar di  bawah ini:

 

Di gambar tersebut juga terlihat percakapan saya dengan CS nya di UQ library dan ternyata simple banget untuk mendapatkan dokumen yang sebenarnya itu berbayar. Saya juga baru tahu bahkan di UQ, kita (student) juga bisa request sekiranya ada buku yang bagus tapi di library tidak ada, kita bisa request untuk dibelikan baik itu soft file maupun hard copy. Gileee ya.

Ya tentu kembali ke awal paragraf tadi, tak bisa kita bandingkan apple to apple dengan kampus di Indonesia. Lha di sini mayoritas students jg dari International students yang mana tuition feenya muahalnya minta ampun. Ini beasiswa saya (LPDP) mbayarin tuition fee buat saya 32.000 AUD per tahun. Ya pantes kan klo servicenya spt ini. Semua dokumen, buku, paper, dan sebagainya yang berbayar dan mahal bisa dengan mudah diakses. Ya ini lah UQ.

Setelah dapat pengalaman ini, akhirnya saya memutuskan untuk coba jalan-jalan ke Library di UQ. Istilahnya sekali-kali lah belajar di library, tidak melulu di office saja, dan memang luar biasa hehee! Library di sini di design senyaman mungkin, kalau butuh PC ada buanyak, bagi yang hanya butuh space buat belajar jg banyak banget, bahkan ada capsule (ini space buat tidur bagi yang kecapean). Bagi mahasiswa postgraduate spt saya juga bisa booking space (satu ruangan) buat belajar dan kedap suara hahaha. Dan itu smua buka 24 jam. Finally, akhirnya sekarang kadang-kadang klo saya lagi bosen belajar di office akhirnya saya pergi ke perpus!

Begitulah pengalaman seorang mahasiswa PhD yang kerjaannya hanya di office saja hahaa, udah hampir setahun di sini baru pertama kali jalan-jalan dan nyobain service di perpus 🙂

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat, atau menambah info, wawasan dan apapun itu. Sampai ketemu di tulisan-tulisan selanjutnya….

Perbedaan kuliah di Korea dengan di Australia – Memilih Pembimbing

Di tulisan ini sayang ingin membahas khusus tentang Supervisor! untuk yang lain (seperti kondisi kampus, lingkungan, dsb) nanti ditulisan selanjutnya…

Saya sudah lama tidak posting di blog ini, apalagi posting mengenai perkuliahan dan aktifitas saya di Brisbane ini. Padahal saya saat ini sudah 9 bulan menjalani masa PhD hehe. Hari ini saya merasa suntuk dengan pekerjaan (riset) jadi buat ngilangin kesuntukan, saya mencoba untuk posting tulisan di blog ini. Semoga tulisan saya ini bermanfaat!

Intinya saya cukup beruntung karena diberi kesempatan oleh Allah bisa kuliah S1 di UIN Jogja, kemudian bisa menyelesaikan S2 di Chonnam National University, Korea dan sekarang sedang melanjutkan S3 di Data Science, The University of Queensland, Australia. Nah, saya menulis ini sebenarnya juga karena ada beberapa yang tanya ke saya mengenai plus minus kuliah di Korea dan di Australia. Tapi untuk postingan kali ini saya fokuskan lebih tentang superviosr. Tulisan ini nanti bisa buat gambaran buat teman-teman yang berencana untuk melanjutkan ke luar negeri. Hanya saja perlu diketahui bahwa ini hanya berlaku untuk case saya ya, hanya sebagai penambah referensi, tentu sama-sama di Australia tapi beda kampus, beda professor, tentu akan sangat berbeda, apalagi Australia begitu besar. Begitu juga di Korea, beda kampus, beda professor, tentu akan berbeda. Jadi intinya tulisan ini bisa buat nambah referensi tapi bukan untuk mengeneralisir.

Sejujurnya, walaupun jurusan saya S1 teknik informatika, S2 di computer engineering dan S3 di data science, sama-sama masuk di program “computer” tapi sebenarnya konsentrasi saya tidak begitu linear. Dulu waktu S1 semester awal saya sangat suka sekali dengan network security sampai-sampai saya bisa masuk ke semua server kampus #ups hehehe, kemudian di pertengahan semester suka sekali dengan AI khususnya computer vision dan melakukan penelitian dengan dosen dengan topik deteksi gampar porno dengan image processing dan machine learning. Eh di semester akhir saya sukanya main Android dan seputaran mobile computing. Setelah diterima S2 di korea, saya menjadi mahasiswa sekaligus peneliti di Advanced Network Lab di Chonnam dg fokus riset di bidang Ubiquitous computing dan diakhir-akhir tahun S2 lebih ke data mining yaitu modeling human behavior dari smartphone log. Baik S1 dan S2 saya memang terbiasa dengan implementasi atau lebih ke applied dan engineering, saya kurang tertarik dengan science dan novelty karena memang sejujurnya novelty di informatika berarti background matematika harus kuat sedangkan saya cukup kurang di matematika.

Lah dalah, kersaning Allah, saya memberanikan diri untuk ambil S3 di data science UQ (data and knowledge engineering)  dengan memilih supervisor yang masih muda (“Senior Lecturer” equivalent dg associate professor klo di USA) yang beliau lama berkarya di University of Pittsburgh, alasannya sih biar greget hehe. alhasil dari awal S3 ini sampai sekarang saya puyengnya bukan main hehehe. Nah jadi langsung saya buat point-point saja ya.. berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang biasanya saya dapatkan.

  • S2 dan S3 saya sama-sama by research jadi mungkin saya cukup bisa mengkomparasikan, tapi tetap saja tidak bisa digeneralisir. Professor/supervisor saya waktu S2 di Korea adalah professor senior, jadi klo proyek mah datang terus ke beliau, hanya saja karena sudah senior beliau kurang begitu butuh “kum” atau apa ya, intinya dari segi jabatan beliau sudah tak begitu butuh mahasiswanya untuk berjuang mati-matian submit publikasi. Tapi tetep saja harus publish karena untuk keberlangsungan lab nya (karena dari kampus/departement punya target bahwa lab harus punya publikasi minimal berapa tiap semester). Alasan lain professor senior pingin publish paper mungkin kalau beliau pingin jalan-jalan, bangun relasi, jadinya submit ke conference, dan kita juga akhirnya ikut jalan-jalan hehe.
  • Punya Professor SeniorPlus: Tekanan dari supervisor tidak begitu keras, budget biasanya banyak di lab dari grant-grant karena professor senior jelas sudah punya nama. Minus: Beliau biasanya kurang dalam hal membimbing kita karena kesibukan relasi, dan karena sudah senior dan dari sisi jabatan sudah diatas jadi motivasi untuk menjadikan anak-anaknya bisa submit di jurnal2 bereputasi kurang kuat karena mungkin beliau sudah tidak begitu butuh tapi kitalah yang butuh hehee.
  • Hal itu cukup berbeda dengan kondisi sekarang saya saat ini. Saya memang dengan sengaja memilih supervisor yang muda, sudah gitu background beliau dari pure computer science dan dari US, ya beginilah jadinya hehee, awal2 meeting langsung berurusan dengan equation hahaa. Dulu padahal pas di Korea sangat kental dengan budaya pali-pali nya (cepat-cekatan) dan workaholic nya, terus pingin ke Australia dengan ekspektasi mungkin akan lebih nyantai, eh tapi nyatanya hehehe.. ya beginilah. Nanti akan ada tulisan-tulisan saya tentang jerih payahnya saya memulai PhD di UQ ini. Dari mulai merasa diri ini adalah makhluk paling bodoh di dunia, sampai…….. ya begitulah. Persis 100 % di PhD comics haha.
  • Punya Supervisor yang masih mudaPlus: Jadi belajar banyak, benar-benar bisa membimbing dan mengarahkan, sangat memperhatikan details. Minus: Tekanan dari supervisor sangat keras, publikasi oriented di top tier conference dan jurnal karena ini juga untuk karir beliau, PhD terasa panas, dunia seakan-akan sangat kejam!!! hahaha, ekspektasi tinggi, mungkin juga kurang sabar karena beliau masih muda dan tidak seperti supervisor yang sudah senior yang rata-rata sudah sangat banyak membimbing mahasiswa yang berbeda-beda.
  • Kalau masalah Korea vs Australia, yang berasa berbeda adalah culture nya. Korea punya kultur yang cukup menghargai senior alias kultur senioritasnya masih cukup kental, jadi waktu saya S2 di sana yangmana supervisor saya adalah professor yang senior di kampus tentu ini ada nilai positif buat saya hehe. Sedangkan di Australia, jelas kulturnya adalah kultur barat. Wong manggil supervisor kita aja langsung nama tak ada embel2 nyebut professor. Kalau di Korea dulu saya manggir professor saya ya prof. Klo disini sekarang ya langsung sebut nama, mau beliau beda jauh umurnya sama kita tetap langsung panggil nama hehe. Kemudian di sini (Australia) juga tak ada kultur senioritas, jadi ya semuanya setara ketika berargument mau yang udah senior maupun tidak ya sama bahkan mahasiswa dan professor juga sama.

 

Nah begitulah, jadi bagi teman-teman yang mau ambil S2 by research atau mau ambil PhD, sekarang jadi punya referensi kan, apakah mau pilih supervisor yang sudah senior dengan jabatan yang sudah tinggi di kampus atau supervisor yang masih muda dan idealis hehe. Tapi tentu tulisan saya di atas tidak bisa untuk mengeneralisir, tentu semuanya tergantung pada supervisor masing-masing. Ada kok walaupun sudah senior tapi tetap ngejar-ngejar dan nge-push mahasiswanya, ada juga yang walaupun masih muda tapi style nya santai. Jadi begitulah, ada yang mau ditanyakan? silahkan tanyakan di kolom komentar.

 

Sampai ketemu ditulisan-tulisan saya berikutnya..

Salam dari Brisbane

Rischan Mafrur