Pengalaman Hamil di Brisbane

Waktu menunjukkan pukul 11 malam ketika aku masih menyelesaikan cucian piringku. Tiba-tiba aku merasa pusing dan sesak nafas, belum selesai apa yang kukerjakan, aku segera merebahkan diri ke kasur. Suami yang melihatku jadi heran, “Ibu kenapa? Anemianya kambuh ya?”, tanyanya. Hmm.. tidak biasanya aku sepusing ini hanya karena berdiri lama untuk mencuci piring. Aku ingat mengalami perasaan ini ketika dulu hamil anak pertama kami, Fatiha. Aku dan suami mendadak saling pandang penuh arti, “Jangan jangan……”, pikiran kami sama.

Esoknya, aku mencoba menggunakan test pack dan… surprise! Aku positif hamil! Di bulan ketiga kedatanganku ke Brisbane, ternyata Allah sudah memberiku amanah baru, yaitu janin di dalam rahimku, calon adiknya Fatiha. Hal yang membuat kami cukup kaget karena kami tidak menyangka kehadirannya begitu awal. Segera kami membuat appointment untuk bertemu dengan GP (General Practitioner) atau dokter umum di klinik kampus untuk konsultasi kehamilan.

Di pertemuan pertama, saya pikir GP akan melakukan USG pada saya untuk melihat keberadaan kantung kehamilan dalam rahim seperti yang dilakukan oleh dokter spesialis kandungan atau SpOG di Indonesia. Namun ternyata cukup berbeda. GP maupun dokter spesialis di sini tidak berwenang untuk melakukan USG. Hal yang dilakukan pertama kali bersama GP adalah mengecek usia kehamilan berdasarkan kalender menstruasi, tes darah, dan tes urine. Hasil tes lab tersebut langsung diintegrasi secara online ke public hospital terdekat yang menerima OSHC (Overseas Student Health Cover) atau asuransi kesehatan mahasiswa, yaitu RBWH (Royal Brisbane Women Hospital). Asuransi OSHC ini sudah meng-cover seluruh biaya konsultasi dengan GP di klinik, tes-tes lab, hingga konsultasi dengan midwife (bidan) dan dokter spesialis di RS. Namun tidak meng-cover suplemen atau vitamin selama kehamilan.

Beberapa hari kemudian, hasil tes lab darah pun keluar dan menunjukkan bahwa saya mengalami defisiensi zat besi dan vitamin D. Hal inilah yang membuat saya sering merasa pusing dan mengantuk berat selama trimester pertama. Tapi yang kami heran adalah ternyata saya kekurangan vitamin D, artinya saya kurang banyak terpapar sinar matahari! Kabar baiknya, ternyata UQ Aquatic Center, kolam renang milik kampus suami memiliki program khusus ibu hamil untuk gratis berenang tiga kali sepekan selama 14 bulan! Surprisenya lagi adalah mereka menyediakan kursus renang untuk bayi usia 4 bulan nanti pasca melahirkan. Bahkan, untuk menjadi member program yang bernama “Bubble Club” ini semua gratis, padahal jika tidak hamil, untuk masuk kolam renang UQ satu kali saja bagi non-student, harga tiketnya sekitar $8. Akhirnya, dalam rangka meningkatkan vitamin D, saya pun rajin renang ke kampus setidaknya 1-2 kali sepekan bersama Fatiha yang masih bebas tiket karena usianya di bawah 3 tahun.

WhatsApp Image 2020-04-13 at 10.10.46 AM
Ibu dan Fatiha sedang berenang di UQ Aquatic Center  

Memasuki usia kehamilan 13 minggu, saatnya jadwal pertama untuk USG. Di sini, USG hanya dilakukan sebanyak dua kali selama masa kehamilan dan dilakukan oleh ultrasonographer di sebuah lembaga scan terdekat, saya melakukannya di Qscan Toowong. USG yang pertama ini bernama Nuchal Translucency yang berfungsi untuk mengukur ketebalan lipatan nuchal di belakang leher bayi yang menjadi indikator ada atau tidaknya kelainan kromosom atau kecacatan.

Sedangkan USG yang kedua bernama Morphology Test di bulan ke-5 untuk melihat seluruh organ tubuh bayi dan jenis kelamin. Scan ini cukup menjadi pengalaman unik bagi saya, di SMS, mereka meminta saya untuk minum air setidaknya 1 liter 1 jam sebelum scan dilakukan dan menahan pipis. Namun karena saya tidak hafal apakah saya sudah minum sebanyak 1 liter atau belum, saya terus saja minum air sebanyak-banyaknya yang membuat saya sangat kebelet pipis sesampai di ruang scan. Singkat cerita, there’s another surprise! Calon adiknya Fatiha adalah laki-laki, lengkaplah menjadi sepasang anak kami. Alhamdulillah.

Setelah scan kedua, kami dijadwalkan ke RS untuk bertemu midwife. Pertemuan pertama ini, kami diwawancara oleh satu midwife dan asistennya untuk mengisi data dan riwayat kesehatan. Selanjutnya, mereka meminta suami untuk keluar ruangan dan saya diminta mengerjakan beberapa soal terkait kondisi kesehatan mental diri dan keluarga. Ya, mereka sangat peduli dengan kesiapan mental calon ibu, apakah ibu bahagia atau merasa stress dengan kehamilannya, bagaimana sikap partner terhadap ibu, kemudian siapakah yang nantinya akan membantu mengurus bayi pasca persalinan, dsb. Pekan depannya, masih di RS yang sama, kami dijadwalkan untuk bertemu dokter spesialis kandungan untuk mendiskusikan beberapa isu terkait kondisi kehamilan dan riwayat kesehatan. Selain konsultasi, dokter juga mengecek detak jantung janin dan tensi. Di RS ini juga, saya diminta untuk tes urin dan hasil tes mengatakan bahwa urin saya mengandung leukosit dan akan ditindaklanjuti oleh GP di klinik UQ.

Masih di bulan ke-5, GP yang menangani saya meminta kembali tes urin, darah, dan Glucose Tolerance Test (GTT). Tes ini sebetulnya juga dulu ketika hamil Fatiha, tersedia di Puskesmas Indonesia, namun karena ketika tes darah gula saya normal, mereka tidak menyarankan melakukannya. GTT ini tes yang cukup menyiksa, karena sejak malam saya diminta berpuasa makan dan minum, kemudian pukul 9 pagi, petugas lab meminta saya meminum langsung sebotol sirup manis rasa lemon. Rasanya perut kosong dan tiba-tiba diisi air yang manis asam ini ternyata membuat saya pusing dan mual, apalagi setelah meminum sirup tadi saya diminta menunggu selama 1 jam untuk diambil darah dan tetap berpuasa. Kemudian diminta menunggu 1 jam lagi tapi boleh minum air putih. Darah yang diambil pun cukup banyak dibanding perkiraan saya, 1 tube! Saya kira saya akan dites glukosa darah hanya di ujung jari saja.

Memasuki akhir trimester kedua, kami mulai mencari perlengkapan bayi. Alhamdulillah, selama di Brisbane ini jarang kami harus membeli barang karena adanya giveaway dari teman-teman Indonesia. Carseat, box bayi, stroller bayi, clodi, tas bayi, hingga peralatan MPASI semua dapat gratis dari teman yang back for good (pulang karena telah selesai studi) ke Indonesia. Ini hal yang tidak dialami ketika hamil Fatiha dulu di Indonesia, dulu jika perlu peralatan yang agak besar seperti booster seat atau high chair, saya harus menyewanya bulanan jika tidak ingin membeli.

Beberapa hal yang membedakan dengan pengalaman hamil di Indonesia, semua dokter yang saya temui di sini tidak ada yang percaya bahwa minus mata yang tinggi berarti harus melahirkan dengan operasi caesarean. Mereka juga mempersilahkan ibu hamil untuk makan apa saja dan tidak ada pantangan, misal seperti durian, soda, mie instan, nanas, dsb. Ohya, terakhir di sini tidak ada susu ibu hamil seperti yang banyak diiklankan di Indonesia ya.. he he..

(selesai)

ditulis oleh Khadijah Hasim