Pengalaman Hamil di Brisbane

Waktu menunjukkan pukul 11 malam ketika aku masih menyelesaikan cucian piringku. Tiba-tiba aku merasa pusing dan sesak nafas, belum selesai apa yang kukerjakan, aku segera merebahkan diri ke kasur. Suami yang melihatku jadi heran, “Ibu kenapa? Anemianya kambuh ya?”, tanyanya. Hmm.. tidak biasanya aku sepusing ini hanya karena berdiri lama untuk mencuci piring. Aku ingat mengalami perasaan ini ketika dulu hamil anak pertama kami, Fatiha. Aku dan suami mendadak saling pandang penuh arti, “Jangan jangan……”, pikiran kami sama.

Esoknya, aku mencoba menggunakan test pack dan… surprise! Aku positif hamil! Di bulan ketiga kedatanganku ke Brisbane, ternyata Allah sudah memberiku amanah baru, yaitu janin di dalam rahimku, calon adiknya Fatiha. Hal yang membuat kami cukup kaget karena kami tidak menyangka kehadirannya begitu awal. Segera kami membuat appointment untuk bertemu dengan GP (General Practitioner) atau dokter umum di klinik kampus untuk konsultasi kehamilan.

Di pertemuan pertama, saya pikir GP akan melakukan USG pada saya untuk melihat keberadaan kantung kehamilan dalam rahim seperti yang dilakukan oleh dokter spesialis kandungan atau SpOG di Indonesia. Namun ternyata cukup berbeda. GP maupun dokter spesialis di sini tidak berwenang untuk melakukan USG. Hal yang dilakukan pertama kali bersama GP adalah mengecek usia kehamilan berdasarkan kalender menstruasi, tes darah, dan tes urine. Hasil tes lab tersebut langsung diintegrasi secara online ke public hospital terdekat yang menerima OSHC (Overseas Student Health Cover) atau asuransi kesehatan mahasiswa, yaitu RBWH (Royal Brisbane Women Hospital). Asuransi OSHC ini sudah meng-cover seluruh biaya konsultasi dengan GP di klinik, tes-tes lab, hingga konsultasi dengan midwife (bidan) dan dokter spesialis di RS. Namun tidak meng-cover suplemen atau vitamin selama kehamilan.

Beberapa hari kemudian, hasil tes lab darah pun keluar dan menunjukkan bahwa saya mengalami defisiensi zat besi dan vitamin D. Hal inilah yang membuat saya sering merasa pusing dan mengantuk berat selama trimester pertama. Tapi yang kami heran adalah ternyata saya kekurangan vitamin D, artinya saya kurang banyak terpapar sinar matahari! Kabar baiknya, ternyata UQ Aquatic Center, kolam renang milik kampus suami memiliki program khusus ibu hamil untuk gratis berenang tiga kali sepekan selama 14 bulan! Surprisenya lagi adalah mereka menyediakan kursus renang untuk bayi usia 4 bulan nanti pasca melahirkan. Bahkan, untuk menjadi member program yang bernama “Bubble Club” ini semua gratis, padahal jika tidak hamil, untuk masuk kolam renang UQ satu kali saja bagi non-student, harga tiketnya sekitar $8. Akhirnya, dalam rangka meningkatkan vitamin D, saya pun rajin renang ke kampus setidaknya 1-2 kali sepekan bersama Fatiha yang masih bebas tiket karena usianya di bawah 3 tahun.

WhatsApp Image 2020-04-13 at 10.10.46 AM
Ibu dan Fatiha sedang berenang di UQ Aquatic Center  

Memasuki usia kehamilan 13 minggu, saatnya jadwal pertama untuk USG. Di sini, USG hanya dilakukan sebanyak dua kali selama masa kehamilan dan dilakukan oleh ultrasonographer di sebuah lembaga scan terdekat, saya melakukannya di Qscan Toowong. USG yang pertama ini bernama Nuchal Translucency yang berfungsi untuk mengukur ketebalan lipatan nuchal di belakang leher bayi yang menjadi indikator ada atau tidaknya kelainan kromosom atau kecacatan.

Sedangkan USG yang kedua bernama Morphology Test di bulan ke-5 untuk melihat seluruh organ tubuh bayi dan jenis kelamin. Scan ini cukup menjadi pengalaman unik bagi saya, di SMS, mereka meminta saya untuk minum air setidaknya 1 liter 1 jam sebelum scan dilakukan dan menahan pipis. Namun karena saya tidak hafal apakah saya sudah minum sebanyak 1 liter atau belum, saya terus saja minum air sebanyak-banyaknya yang membuat saya sangat kebelet pipis sesampai di ruang scan. Singkat cerita, there’s another surprise! Calon adiknya Fatiha adalah laki-laki, lengkaplah menjadi sepasang anak kami. Alhamdulillah.

Setelah scan kedua, kami dijadwalkan ke RS untuk bertemu midwife. Pertemuan pertama ini, kami diwawancara oleh satu midwife dan asistennya untuk mengisi data dan riwayat kesehatan. Selanjutnya, mereka meminta suami untuk keluar ruangan dan saya diminta mengerjakan beberapa soal terkait kondisi kesehatan mental diri dan keluarga. Ya, mereka sangat peduli dengan kesiapan mental calon ibu, apakah ibu bahagia atau merasa stress dengan kehamilannya, bagaimana sikap partner terhadap ibu, kemudian siapakah yang nantinya akan membantu mengurus bayi pasca persalinan, dsb. Pekan depannya, masih di RS yang sama, kami dijadwalkan untuk bertemu dokter spesialis kandungan untuk mendiskusikan beberapa isu terkait kondisi kehamilan dan riwayat kesehatan. Selain konsultasi, dokter juga mengecek detak jantung janin dan tensi. Di RS ini juga, saya diminta untuk tes urin dan hasil tes mengatakan bahwa urin saya mengandung leukosit dan akan ditindaklanjuti oleh GP di klinik UQ.

Masih di bulan ke-5, GP yang menangani saya meminta kembali tes urin, darah, dan Glucose Tolerance Test (GTT). Tes ini sebetulnya juga dulu ketika hamil Fatiha, tersedia di Puskesmas Indonesia, namun karena ketika tes darah gula saya normal, mereka tidak menyarankan melakukannya. GTT ini tes yang cukup menyiksa, karena sejak malam saya diminta berpuasa makan dan minum, kemudian pukul 9 pagi, petugas lab meminta saya meminum langsung sebotol sirup manis rasa lemon. Rasanya perut kosong dan tiba-tiba diisi air yang manis asam ini ternyata membuat saya pusing dan mual, apalagi setelah meminum sirup tadi saya diminta menunggu selama 1 jam untuk diambil darah dan tetap berpuasa. Kemudian diminta menunggu 1 jam lagi tapi boleh minum air putih. Darah yang diambil pun cukup banyak dibanding perkiraan saya, 1 tube! Saya kira saya akan dites glukosa darah hanya di ujung jari saja.

Memasuki akhir trimester kedua, kami mulai mencari perlengkapan bayi. Alhamdulillah, selama di Brisbane ini jarang kami harus membeli barang karena adanya giveaway dari teman-teman Indonesia. Carseat, box bayi, stroller bayi, clodi, tas bayi, hingga peralatan MPASI semua dapat gratis dari teman yang back for good (pulang karena telah selesai studi) ke Indonesia. Ini hal yang tidak dialami ketika hamil Fatiha dulu di Indonesia, dulu jika perlu peralatan yang agak besar seperti booster seat atau high chair, saya harus menyewanya bulanan jika tidak ingin membeli.

Beberapa hal yang membedakan dengan pengalaman hamil di Indonesia, semua dokter yang saya temui di sini tidak ada yang percaya bahwa minus mata yang tinggi berarti harus melahirkan dengan operasi caesarean. Mereka juga mempersilahkan ibu hamil untuk makan apa saja dan tidak ada pantangan, misal seperti durian, soda, mie instan, nanas, dsb. Ohya, terakhir di sini tidak ada susu ibu hamil seperti yang banyak diiklankan di Indonesia ya.. he he..

(selesai)

ditulis oleh Khadijah Hasim

Proses Visa Keluarga ke Australia

Semenjak saya posting tulisan “Meninggalkan keluarga demi S3” sepertinya sudah 1 tahun 9 bulan mungkin kali ya, sampai pada akhirnya visa anak dan istri saya Granted.

Sungguh pengurusan visa keluarga saya ke Australia ini tidak seperti teman pada umumnya, saya harus menanti visa istri dan anak kurang lebih 9 bulan, udah kayak nungguin anak lahir saja hehe. Gimana ceritanya? dan apa sarannya? yuk simak tulisan saya berikut ini.

Saya masih ingat waktu submit aplikasi visa istri dan anak saya itu ditanggal 21 Agustus 2018, dan baru kemarin tanggal 20 Mei 2019 Granted. Silahkan lihat gambar berikut ini.

Submit Aplikasi Visa Australia (anak dan istri) tanggal 21 Agustus 2018
Visa anak dan istri baru granted tanggal 20 May 2019

Total 9 bulan lebih penantian akhirnya granted juga. Kenapa kok bisa begini? di postingan ini saya akan mencoba menjelaskan, semoga bagi pembaca semua bisa mengambil hikmahnya khususnya bagi teman-teman yang berencana studi ke Australia dan ingin membawa keluarga.

Beasiswa saya LPDP memberikan support family allowance (tunjangan keluarga) setelah saya menjalani kuliah 1 tahun, jadi baru bisa mengajukan tunjangan keluarga setelah bulan 13. Karena itulah saya memang berencana membawa keluarga setelah 1 tahun kuliah. Sandungan lainnya juga ada yakni membayar asuransi kesehatan yang cukup besar. Saya bulan Juli membayar asuransi kesehatan keluarga sebesar 10,000 AUD atau 100 jutaan agar bisa apply visa family. Ini ceritanya gimana? ya LPDP hanya cover asuransi single (student) jadi bila kita ingin bawa keluarga jadi harus upgrade asuransi kita ke tipe family dan itu harus bayar seluruh asuransi di awal (sebelum apply visa).

Mungkin bagi teman-teman yg sudah bekerja lama di Indonesia, punya aset mobil misalnya, mereka bisa langsung berangkt bareng keluarga karena punya tabungan. Tapi apa daya saya yg baru lulus S2 dan baru nikah terus langsung punya anak hehe. Ya begitulah… tapi percaya Allah pasti ngasih jalan.

Singkat cerita, Oktober 2018 adalah bulan dimana saya akan genap 1 tahun di Australia, jadi saya berencana membawa keluarga bulan November sehingga saya bisa mengajukan tunjangan keluarga. Kalau hidup bersama keluarga dan tanpa tunjangan keluarga itu cukup berat disini karena tidak cukup living allowance yg diberikan untuk mengcover kebutuhan keluarga. Akhirnya ya itu Agustus 2018 saya apply visa dan sebelumnya Juli 2018 saya bayar asuransi 100jt rupiah hasil menabung selama 1 tahun. Cieeyyyee yang rajin menabung.

Setelah submit aplikasi VISA ke immi account, kita akan dapat HAP ID untuk dibawa ke rumah sakit yg punya kerjasama dg pemerintah australia (dulu saya dan istri/anak ke RS premier jatinegara). Setelah periksa kesehatan bisanya tinggal nunggu beberapa hari visa langsung keluar.

Buktinya? dulu saya hanya butuh 1 hari visa langsung granted. Saya masih inget, submit hari senin langsung dpt HAP ID, hari selasa periksa ke RS premier jatinegara, hari Rabu visa saya sudah granted.

Ehhh.. lah dalah, kok setelah submit aplikasi visa anak dan istri ini ditunggu 3 hari, 4 hari sampai 1 minggu kok statusnya gak ada perubahan. Saya sempat bingung, akhirnya setelah 1 minggu baru dapat telp dari RS Premier Jatinegara kalau istri saya suspect TBC.

Haduh, lansung pusing kepala saya, saya udah tau dan dengar2 dari teman-teman kalau Aussie memang sangat strict dg ini bahkan di saat mendarat di Aussie kita juga harus mengisi form declare termasuk disitu ada form ttg TBC. Saya langsung putus harapan rasanya saat itu.

Lha gimana, istri itu dulu sebelum periksa kesehatan ke RS premier jatinegara, dia udah pernah rongten di RSUD Bogor dan dinyatakan bebas TBC, saat itu istri rongten untuk persyaratan mendaftar beasiswa LPDP yg pd akhirnya gak lolos hhahaa, belum rejekinya. Ditambah istri gak ada gejala batuk, malah jarang sekali batuk dan sehat banget. Makanya saya benar2 shock. Saat itu saya langsung beli tiket dan memutuskan pulang. Kami langsung ke RS dan berdiskusi gmn kelanjutan visa istri ini. Ternyata ribetnya minta ampun.

  1. Istri harus tes sputum (dahak) kemudian nunggu 3 bulan utk melihat hasilnya (inget dulu perjuangan istri jadi sedih, karena istri sy sehat dan tdk bisa mengeluarkan dahak jadi harus diuap segala macam)
  2. Kalau hasil negatif bisa go, klo hasil positif harus treatment 6 bulan
  3. Gileee, total 9 bulan dums
  4. Belum lagi nanti processing timenya, ya Rabb.
  5. Dan yang lebih ribet dan bikin kami sedih adalah, karena kami punya anak dibawah 2 tahun. Fatiha negatif, tp karena tidak mungkin memisahkan fatiha sama ibunya. Maka ketika Ibunya nanti harus treatment, fatiha harus minum antibiotik pencegahan.
  6. Dan yang lebih repot lagi, untuk treatmentnya, setiap hari minum obatnya harus ke RS Premioer Jatinegara dan disaksikan oleh suster.
  7. Tiap 2 bulan nanti ada rongten dan sputum lagi

Ini kan rempongnya minta ampun, sampai saat itu saya sempat ingin memutuskan untuk drop out. Andai kata beasiswa saya itu dari pemerintah Australia, saya sepertinya akan out saja. Lha sudah 1 tahun ninggalin keluarga ya walaupun tiap 4 bln pulang, tp ttp saja tidak enak. Eh ini harus ditambah 9 bulan.

Saat itu saya bertnya ke dokternya terutama ttg point 1. Masa harus nunggu 3 bulan, apa tidak ada test yg cepet dan nanti bisa ketahuan status istri saya? Kata dokternya ada yakni test mantoux, jadi nanti disuntik, terus lihat efeknya klo bengkak berarti positif dan ada beberapa test lainnya semacam sputum yg cepet. Tapi semuanya harus bayar sendiri karena tidak tercover oleh biaya visa. Akhirnya kami memilih untuk itu. Dan ketika melihat hasilnya ternyata memang positif. Ya sudah berarti harus treatment 6 bulan, tapi at least kami tidak harus nunggu 3 bulan baru tau positif atau negatif.

Saya akhirnya putuskan untuk ngekosin anak dan istri di sebelah RS premier jatinegara, jalan kaki hanya 5 menitan. Karena walaupun rumah istri di Bogor, tp klo tiap hari harus ke RS premier jatinegara dan naik KRL kan yo kasihan anak. Benar-benar klo ingat masa-masa itu seakan2 kayak udah mau pulang saja, mau berhenti saja, ndak tega sih. Tapi bagaimana lagi.

Jadi ingat, ini bukan seberapa, nabi Ibrahim dulu diperintahkan oleh Allah untuk membawa istri dan anaknya yang masih bayi ke tempat tandus dan meninggalkan mereka ke situ. Cobaan sy ini masih belum sebanding rasanya.

kalau ingat cobaan ini rasanya benar2 gimana gitu, ngelihat teman2nya juga pada lancar2, eh kok ya saya dapat yang begini, tapi kadang saya mikir. Ketika saya dapat nikmat contohnya dpt beasiswa, kenapa saya jarang berpikir, eh kok saya yang dapat bukan teman sy? Nah itulah manusia mau enaknya sendiri, giliran diuji…. langsung bilang “kenapa saya” hehehe

Saya masih tidak tau apa hikmah dibalik semua ini, yang ada saya hanya yakin semua pasti ada hikmahnya, pandangan manusia terbatas sedangkan pandanganNya tak terbatas. Yang jelas dengan hidup yang naik turun hidup kita akan lebih terasa menantang dan hati akan digembleng. Coba klo hidupnya datar2 saja, semua keinginannya tercapai terus, tidak pernah mengalami kesulitan, kan yo nggak assyiiikk ta… bukankah Allah itu maha asik? hehe.

Nah untuk saran bagi teman-teman yang pingin studi di Aussie dan berencana membawa keluarga, berikut sarannya:

  1. Apply visa via agent saja, nanti tanya agent bisa gak yang test kesehatan dulu sebelum bayar asuransi? mungkin bisa kali ya silahkan bisa ditnyakan. At least ketika ada masalah seperti yg saya alami, masih bisa tanya2 agent. Lha kemaren saya gak bisa tanya siapa2, wong imigrasi aussie juga gak ada CSnya buat nanyain ini.
  2. kalau mau apply visa sendiri, korbankan beberapa rupiah untuk rongten periksa paru2 di RS Premier Jatinegara Jakarta dulu sebelum apply visa. Klo bersih, baru apply hehehe. Kalau ternyata ada suspek TB bisa nyari RS terdekat untuk treatment.
  3. Semoga teman2 tidak mengalami hal yang saya alami ini. Amiin..

Alhamdulillah setelah di granted tgl 20 Mei, hari ini Selasa 28 Mei anak dan istri saya sudah di Brisbane (tadi pagi saya jemput di Airport) hehehe, mohon doanya semoga Allah memudahkan perjalanan keluarga kami baik studinya maupun kehidupan kami disini.

Welcome to Brisbane …



=============================

Bagi yg tertarik dengan tulisan saya mengenai

  1. Study di Australia [Silahkan akses ke halaman ini]
  2. Traveling alias jalan2 di Australia termasuk tempat-tempat yg harus dikunjungi [Silahkan akses ke halaman ini]
  3. Vlog tentang Kuliah/Beasiswa di Australia dan di Korea, ttg jalan-jalan kami baik di Australia dan Korea [Silahkan akses ke channel Youtube kami: Alkwangju]

Dua halaman diatas adalah kumpulan tulisan-tulisan saya ttg study dan traveling di Australia. Semoga bermanfaat!



Serangan Teroris di Sri Lanka

Belum lama dari kejadian pembantaian biadab di Christchurch New Zealand, kini kita dengar serangan mengerikan ketika Easter di Sri Lanka.


Kalau di NZ yang diserang adalah Masjid dan Korbanya adalah Muslim, kini di Sri Lanka yang diserang adalah Gereja dan Korbannya adalah saudara2 kami kristiani (sedikitnya ada 310 yang meninggal)


Saya biasanya tidak mau menyebut pelaku siapapun dia apapun rasnya, atau agamannya, yg jelas yg mereka lakukan adalah biadab. Hanya saja ketika saya baca berita ini : https://news.detik.com/internasional/d-4522566/kakak-beradik-jadi-pelaku-bom-paskah-di-sri-lanka-ayahnya-kaya-raya


Saya cukup tergelitik untuk membahasnya.


Pelaku diduga dari kelompok ekstremis Islamist National Thowheeth Jama’ath (NTJ), yang memang jelas mereka mengatasnamakan ideologi mereka dg ideologi islam tapi jelas islam tak pernah mengajarkan seperti itu.

Fenomena ini nyata, sebagai pemeluk agama islam dan saya punya teman yang sangat dekat (di SMA) yang dia melanjutkan kuliahnya ke salah satu kampus di solo dan memutuskan untuk berbaiat dengan Abu Bakar Al Bagdadi, dia berangkat ke Damaskus tahun 2014. Ini membuat saya sangat prihatin, dan saat itu saya tidak bisa mencegahnya. Dan saya paham bahwa orang2 islam yang punya pemahaman yg keras seperti ini memang betul adanya.

Dari berita itu saya juga cukup kaget karena dikatakan mereka dari keluarga kaya, bahkan dulu aksi bom di surabaya yang pelakunya satu keluarga mereka juga berkecukupan bahkan berinteraksi baik dengan tetangga. Begitu juga teman saya yg saya sebut di atas, dia juga lahir dan hidup dari keluarga yang berkecukupan. Hal ini membuat hipotesis saya tumbang, dulu saya berpikir bahwa “mungkin” keadilan dalam hal ekonomi/ kemiskinan bisa menjadi faktor orang melakukan aksi teror. Yg ini jelas sdh tumbang. Tapi hipotesis sy yg lainnya yakni, mungkin “keadilan” dalam konteks lain misalnya “keadilan global” dalam media masa, dalam pemberitaan mungkin hal ini bisa menjadi motif orang utk melakukan teror. Sebagai contoh islam selalu tersudutkan di media masa mainstream. Ini tentu perlu pembuktian.

Intinya, yg perlu kita pahami sebagai orang islam, orang-orang yg punya pemahaman keras seperti ini bahkan sudah ada sejak zaman sahabat nabi SAW. Mereka dikenal dg sebutan khawarij yang mana mereka membunuh sahabat Ali bin Abi Tholib (sepupu sekaligus Menantu dari Nabi SAW), dengan alasan karena Ali bin Abi Tholib tidak berhukum dg hukum Quran. Pd saat itu Ali bin Abi Tholib adalah khalifah (pemimpin umat islam). Bisa dibayangkan kan? kalau sepupu/menantu nabi bahkan dia adlh khalifah dan dibunuh oleh khawarij?

Yang jadi repot adalah ketika mereka para khawarij dan neo khawarij ini sangat lihai dalam berbicara mengenai agama atau bahkan quran pun ia hafalkan. Sehingga hal ini bisa menipu orang awam dan menjadikannya sebagai panutan, perkataannya diaminkan, dan pemahamannya diikuti.

Jadi mari yuk kita jaga diri kita, keluarga, saudara, anak-anak kita. Dengan adanya internet, anak kita bisa sangat mudah mengakses smua informasi yg ada di manapun dan kapanpun. Yang harus kita siapkan adalah fondasi yg kuat, pemahaman yg kuat, kaykinan yg kuat, bahwa Rosulullah SAW itu rahmah bukan hanya utk orang islam tp untuk seluruh alam. Di zaman Nabipun Nabi hidup berdambingan dg orang2 yg berbeda keyakinan baik itu kristiani, yahudi, majusi, dan lain sebagainya.

Apapun alasannya tak ada agama apapun yg membolehkan aksi teror.


Apapun alasannya tak ada agama apapun yg membolehkan aksi teror.
Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (Al Maidah: 32).


Semoga Allah memberikan tempat yg terbaik utk semua korban teror dan melindungi kita dari kejatahan para pelaku teror dan semoga Allah jg melindungi kita semua dari pemahaman neo khawarij.
Salam dari Pinggir Kali Brisbane

Rischan Mafrur

*image source: bdnews24.com

24 Purnama di Negeri Ginseng

Tanggal 2 Mei 2016 ada pesan masuk ke Facebook saya, yaitu dari salah seorang editor di Penerbit Mizan Bandung.  Intinya adalah Mas nya ini sering baca Blog saya dan Twittan saya dan dia tertarik untuk membukukannya. Pada waktu itu sebenarnya saya sudah membaca pesan ini tapi karena kesibukan, saya belum sempat untuk merespon tawaran ini. Barulah setelah selang 7 bulan hehe, yaitu di Bulan Desember 2016 saya membalas pesan ini.

Yang pada akhirnya, Alhamdulillah, sekarang bukunya sudah jadi dengan judul “24 Purnama di Negeri Ginseng“. Sebenarnya pada awalnya saya kurang Pede ketika berencana untuk menulis buku karena memang saya belum pernah menulis buku sebelumnya. Saya juga bingung, mau buat buku ber-genre apa, tapi karena Mas dari Mizan tadi mendorong, ya saya tulis saja. Jadi buku saya ini genrenya apa sih?
Ahh.. baca sendiri saja ya hehehehe..

Sebelum buku ini saya kirimkan ke editor, saya sudah meminta istri saya, kemudian beberapa teman saya di Korea, bahkan rektor UTS lho (Universitas Teknologi Sumbawa) sudah baca bukunya, beliau juga ngasih pengantar di buku ini, beberapa dosen saya untuk membacanya dan memberikan testimoninya, dan responnya bagus makanya saya berani untuk memasukkan buku ini ke penerbit.

Singkatnya buku ini sebenarnya lebih mirip seperti gado-gado dimana isinya adalah berdasarkan fakta yakni pengalaman dari penulis sendiri. Di dalamnya mengandung beberapa unsur dari mulai tips untuk mendapatkan beasiswa dan diterima di kampus luar negeri, langkah-langkahnya bagaimana, motivasi-motivasi, bagaimana rasanya kuliah di Korea, suka dukanya, bahkan sampai menyangkut tentang hal-hal religius semacam bagaimana kami sebagai orang islam menjalani hidup kami di Korea, tentang makna hidup, bahkan yang tidak kalah seru, di sana ada romansanya, karena memang tak bisa dipungkiri, Allah mempertemukan jodoh saya di Korea. hehe.

Yang jelas, dari beberapa yang baca, bilangnya sih seru, seperti sedang berpetualang dan ikut merasakan bagaimana keseruan petualangan di Korea.

Inti dari tulisan kali ini adalah satu, yaitu “Menulislah maka kamu Ada“, yang ngomong ini bukan saya tapi Sokrates (filusuf Yunani). Apa yang dikatakan Sokrates itu memang benar, saat ini kita mengenal imam yang empat (Hanafi, Maliki, Syafie, Hambali) atau mungkin kita tahu Imam Nawawi, Ibn Hajar Al Askolani, Imam Ghozali dan sebagainya. Kita tahu mereka karena ada kitab-kita mereka, ada tulisan-tulisan mereka yang sampai saat ini abadi tidak tertelan zaman. Padahal pada zaman dahulu ulama-ulama sekaliber mereka itu tidak hanya mereka, tapi yang bisa survive terkenang sampai sekarang adalah mereka yang mempunyai kitab-kitab dan mempunyai murid yang rajin menuliskan pemikiran-pemikirannya.

Jadi hikmahnya, saya sebenarnya waktu itu belum ada rencana untuk menulis Buku, tapi karena saya sering nulis di Blog, eh ada orang yang membaca blog saya dan tertarik, kebetulan dia adalah editor dari peneribit, ya maka jadilah.

Jadi, yuk kita sama-sama berlatih menulis, sering-sering menulis, apalagi sekarang adalah era sosial media, dimana kita bisa menulis apapun dan dimanapun. Semoga tulisan-tulisan kita bisa bermanfaat bagi orang lain, dan bisa menjadi ladang amal jariah yang pahalanya tak putus walaupun kita sudah mati kelak.

Amiinnn..

Eh iya, yang mau beli Buku saya “24 Purnama di Negeri Ginseng” silahkan bisa beli online di situs Mizan https://mizanstore.com/24_purnama_di_negeri_59981

atau bisa langsung beli di TOkopedia, bukalapak, atau shopee.

Atau bisa pesan kontak WA ke ANJA (0857-9915-6468) lokasi buku ada di Sapen dekat kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bisa minta dikirim juga.

Salam dari Pinggir Kali Brisbane

Rischan Mafrur

Download Buku 37 Masalah Populer Ust Abdul Somad

Alhamdulillah BUKU saya “24 Purnama di Negeri Ginseng” Terbit juga!!

Bagi yang mau kuliah di Korea dengan Beasiswa saya sarankan untuk membeli buku ini, karena dalam buku ini saya jelaskan bagaimana perjuangan seorang pencari beasiswa hingga akhirnya mendapatkannya, kemudian suka dan duka jadi mahasiswa di Korea itu seperti apa. Siap-siap berpetualag dan terbakar semangatnya kalau baca buku ini. Sudah bisa dibeli di toko buku kesayangan anda! (Tersedia di Gramedia seluruh Indonesia)

Bagi yang mau beli Online bisa beli di Tokopedia, Bukalapak atau toko online lainnya, atau langsung menghubungi Whatsapp (WA) CS Mizan store di http://bit.ly/Beli24PurnamaOnline

Atau bisa mengunjungi website resmi MizanStore (Toko Buku Online Mizan) melalui link ini https://mizanstore.com/detail/59981

Sosial media termasuk di dalamnya Facebook, Twitter, Instagram, dan Youtube benar-benar bisa membawa perubahan yang luar biasa. Dulu kita kalau mau belajar harus datang dan masuk ke kelas, atau mendatangi majlis dan bertanya langsung ke guru, tapi sekarang cukup dengan duduk manis di depan laptop atau lihat HP, puter Youtube kita bisa belajar apa saja termasuk di dalamnya belajar Islam.

Entah kenapa lama-kelamaan saya merasa khawatir dengan semua ini, banyak sekali orang-orang dengan mudahnya mencaci maki di Facebook, di Twitter, dan mereka mencacimaki dengan atas nama agama, membid’ahkan amalan orang lain bahkan sampai mengatakan amalan musyrik dan kafir, nauzubillah.

Belajar di Youtube memang nyaman tapi kalau untuk agama kadang memang menjadi menakutkan apalagi mereka-mereka yang baru tahu dan tidak punya landasan kuat tentang islam.

Akhir-akhir ini banyak sekali ustad-ustad yang ceramah di Youtube yang mempunyai pandangan yang berbeda dengan pandangan pada umumnya orang islam di Indonesia, yang mayoritas muslim Indonesia adalah mereka yang beraqidah Asyariah/Maturidiyah dengan Mazhab Fiqih Syafi’iah. Slogan mereka adalah kembali ke Quran dan Sunnah. Jujur saya bingung ketika ada teman saya, dia bahasa arab tidak paham, apalagi nahwu sorof, baca Quran saja belum lancar, baru kenal kajian dan nonton di Youtube langsung bilang kembali ke Quran dan Sunnah. Saya berpikir mungkin yang dia maksud adalah kembali ke TERJEMAHAN Quran dan Sunnah kali ya?

Ingatlah dengan sabda Rosulullah SAW, Barangsiapa menafsirkan Quran dengan akalnya tanpa ilmu maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka (HR Tirmidzi)

Saya jadi inget obrolan dengan Guru saya, beliau adalah Kiyai Kampung tapi pengetahuannya luar biasa. Beliau bilang, beliau sangat tidak setuju Al Quran itu diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Kalau di tafsirkan ke bahasa indonesia dengan tafsir silahkan, tapi kalau hanya diterjemahkan beliau sangat tidak setuju. Dengan adanya fenomena ini akhirnya saya jadi paham, ternyata begini ya jadinya. Orang hanya bermodalkan Quran terjemah, ngutip Quran sana sini, ngutip Hadits sana sini langsung di sampaikan, langsung bilang kembali ke Quran dan Sunnah, padahal dia tak paham konteksnya dulu ayat atau hadits itu diturunkan karena apa dan sebagainya, ya walaupun ada ayat atau hadits yg turun tanpa adanya konteks tapi paling tidak ada syarahnya dari ulama.

Saya mau bercerita sebentar, Dulu suatu ketika saya sholat di sebuah masjid dan ternyata di Masjid tersebut setiap habis magrib ada petugas yang membacakan satu hadits dari kitab hadits. Sayangnya petugas tersebut hanya membacakan artinya tanpa ada syarah, atau asbabul wurudnya, atau tafsirnya. Saya kaget karena pada saat itu hadits yang dibacakan adalah hadits tentang nikah mut’ah (bolehnya kawin kontrak), itu haditsnya memang ada dan jelas kemudian datang hadits yang menghapus hukum bolehnya nikah mut’ah. Nah kalau begini apa tidak berabe? kalau itu didengarkan oleh jamaah yang tidak paham dikiranya nikah mut’ah itu boleh.

Itulah islam, Quran dan Sunnah itu lautan ilmu. Kalau kita belajar lebih dalam, kita bisa tahu bahwa tidak sedikit ayat-ayat dalam Quran dan sunnah itu adalah ayat-ayat nasikh dan mansukh, atau bahkan ada ayat-ayat kontradiktif. Nah, lhoo, terus bagaimana coba kalau ada ayat kontradiktif, bingung kan?

Nah itulah kenapa kita tidak akan mungkin bisa kembali ke Quran dan Sunnah secara langsung, tapi kita kembali ke Quran dan Sunnah melalui para ulama.

Sekarang itu banyak sekali fenomena aneh, ketika sakit dia pergi ke dokter, dokter bilang blababla dan diapun percaya dengan apa yang dokter bilang. Ketika dia motornya rusak dia pergi ke bengkel untuk membetulkannya, tapi ketika masalah agama, kemudian ulama sudah mengatakan hukumnya ini itu, dia menimpali, itu haditsnya shohih? hhehehe. Ada ada saja orang zaman sekarang. Saya pernah menjumpai orang seperti ini, orang tersebut bertanya sesuatu kemudian saya sampaikan jawabannya sesuai dengan apa yang guru saya ajarkan, eh dianya minta dalil, minta hadits, saya kasih saja hadits arab gundul, eh dianya bingung. Yah begitulah… Banyak orang sekarang bilang, ayolah kembali ke Quran dan Sunnah tanpa ikut ulama, emang dia mujtahid? hapal Quran dan paham isinya, hapal dan paham ribuan hadits, kaidah fiqih paham?
Itulah penyakit yang sekarang banyak menjalar di tubuh umat islam saat ini.

Empat imam mazhab itu orang yang sangat luar biasa, ibarat kata Quran dan Sunnah itu adalah bahan mentahnya, mereka imam mazhab adalah juru masaknya/ mujtahid, dimana mereka meracik sedemikian rupa sehingga bisa dengan mudah dinikmati oleh orang umum. Itulah kenapa ada mazhab, tujuannya adalah untuk mempermudah bagi orang umum seperti saya untuk menjalankan agama ini, seperti makanan yang sudah siap santap tidak perlu repot-repot.

Nah kembali ke ustad-ustad di Youtube yang seringkali membid’ahkan amalan-amalan orang lain. Jujur saja, saya di Korea Selatan selama dua tahun, punya beberapa kawan dari timur tengah (Mesir, Libiya, Maroco) bahkan kawan muslim dari daerah-daerah pecahan Rusia sampai Amerika. Ternyata di sana di negara-ngara tersebut termasuk di Korea juga, persoalan umat islam itu juga mirip, yaitu adanya segelintir orang atau kelompok yang suka membid’ahkan amalan orang lain dan menyebabkan perpecahan di kalangan umat, padahal amalan-amalan tersebut sifatnya adalah khilafiyah atau cabang. Yang saya bingungkan dari sahabat-sahabat saya yang seperti itu adalah, masalah furu/khilafiyah mereka vokal sampai mengeluarkan hadits segala macam, doa jamaah bid’ah, tahlilan bid’ah padahal itu adalah merupakan persoalan yang furu, tapi pada persoalan wajib yang disepakati seperti miras merajalela, narkoba, mereka malah biasa saja. Nauzubillah. Saya jadi semakin geleng-geleng saja, mereka sering menamakan Ustad Sunnah, kajian Sunnah dan sebagainya. Apakah yang lain berarti tidak Sunnah?

Alhamdulillah setelah saya pulang dari Korea, terus lihat-lihat di Youtube, sekarang ada orang-orang yang bisa mengkounter ustad-ustad tersebut. Saya sangat suka dengan kajian Buya Yahya Al Bahjah, beliau lulusan Yaman dan sanad Ilmunya jelas dan bisa dipertanggungjawabkan, dengan membawa aqidah asyariah dan atau maturidiyah dan mazhab syafiiah, ini menjadi angin segar bagi umat muslim Indonesia pada umumnya. Kemudian ada Ust Adi Hidayat alumni Libiya yang masih sangat muda dan cerdas, kemarin sempat ramai karena ditahzir tapi qodratullah Allah angkat beliau. Dan yang terakhir ini yang menurut saya paling cocok dengan saya yaitu Ustadz Abdul Somad, alumni S1 Al Azhar Mesir, dan Darul Hadits Maroko.

Ustad Abdul Somad ini ceramahnya enak banget di cerna, gampang dipahami, dan kadang diselipi hal-hal yang lucu dan unik sehingga tidak membosankan. Alhamdulillah sekarang Indonesia punya Ustad Abdul Somad, semoga beliau sehat selalu dan dirahmati Allah. Semoga nanti terlahir generasi-generasi lain yang bisa seperti beliau ini.

Persoalan curhatan saya di atas tersebut akan lebih jelas bila kita membaca Karya Ustadz Abdul Somad yaitu Buku 37 Masalah Populer. Dalam buku tersebut dibahas secara rinci tentang persoalan Bid’ah sampai kepada amalan-amalan yang sering dianggap bid’ah oleh kalangan yang sering membid’ahkan seperti tawasul, salaman setelah sholat, isbal dan sebagainya.

Kalau kata Syeikh Yusuf Qordowi, orang islam di dunia ini mayoritas asyariah dengan bermazhab fiqh imam yang empat, orang-orang seperti di atas yang saya sebutkan itu hanya sedikit sekali hanya saja mereka sering vokal alias aktif ngomong. Nah yuk.. kita juga mulai bergerak, agar tidak pecah persatuan umat ini karena ulah segelintir orang yang suka membid’ahkan orang lain padahal itu adalah persoalan furu alias cabang.

Silahkan bagi yang mau mendownload Buku 37 Masalah Populer karya Ustad Abdul Somad, Lc. MA klik tombol download di bawah ini.

Dakwah itu mengajak bukan Mengeje, Dakwah itu sayang kepada yang didakwahi bukan marah atau benci.

Salam dari Brisbane,

Ditulis oleh:
Rischan Mafrur
Mahasiswa S3 di The University of Queensland, Australia



=============================

Bagi yg tertarik dengan tulisan saya mengenai

  1. Study di Australia [Silahkan akses ke halaman ini]
  2. Traveling alias jalan2 di Australia termasuk tempat-tempat yg harus dikunjungi [Silahkan akses ke halaman ini]
  3. Vlog tentang Kuliah/Beasiswa di Australia dan di Korea, ttg jalan-jalan kami baik di Australia dan Korea [Silahkan akses ke channel Youtube kami: Alkwangju]

Dua halaman diatas adalah kumpulan tulisan-tulisan saya ttg study dan traveling di Australia. Semoga bermanfaat!



Cara membuat paspor bayi

Alhamdulillah BUKU saya “24 Purnama di Negeri Ginseng” Terbit juga!!

Bagi yang mau kuliah di Korea dengan Beasiswa saya sarankan untuk membeli buku ini, karena dalam buku ini saya jelaskan bagaimana perjuangan seorang pencari beasiswa hingga akhirnya mendapatkannya, kemudian suka dan duka jadi mahasiswa di Korea itu seperti apa. Siap-siap berpetualag dan terbakar semangatnya kalau baca buku ini. Sudah bisa dibeli di toko buku kesayangan anda! (Tersedia di Gramedia seluruh Indonesia)

Bagi yang mau beli Online bisa beli di Tokopedia, Bukalapak atau toko online lainnya, atau langsung menghubungi Whatsapp Anjani (0857-9915-6468), posisi buku ada di Yogyakarta deket kampus UIN Sunan Kalijaga (bagi orng Jogja bisa COD)

Atau bisa mengunjungi website resmi MizanStore (Toko Buku Online Mizan) melalui link ini https://mizanstore.com/detail/59981

Awal bulan Maret 2017, saya sudah berencana membuat paspor untuk Fatiha, jabang bayi anak pertama saya yang lahir bulan Desember 2016. Yah, walaupun saya masih belum jelas nantinya mau melanjutkan S3 ke kampus dan negara mana tapi itung-itung sudah siap-siap. Yang pasti kasihan juga kalau nanti istri saya yang ngurus sendirian.

Pertama-tama yang saya cari adalah pendaftaran paspor online untuk bayi, atau anak di bawah umur. Eh ternyata, tau gak? servernya down. Sejak awal maret saya sudah nyoba akses terus-terusan tapi server imigrasi untuk pendaftaran online down. Saya pingin daftar online karena saya yakin pasti antreannya banyak kalau harus daftar langsung kesana. Tapi apa daya ketika online nya tidak available ya mau tidak mau saya harus datang ke kantor Imigrasi.

Baik, jadi di tulisan ini, saya akan menjelaskan mengenai pendaftaran pengajuan paspor secara langsung ke Kanim Bogor.

Saya chek persayaratan di situs Kanim Bogor. Silahkan bisa dichek disini, siapa tau ada tambahan persyaratan. Bagi pembaca di daerah lain silahkan bisa di check di webnya kanim masing-masing daerah, siapa tau ada yang beda.

Persyaratan pembuatan paspor bayi adalah sebagai berikut:

  1. Kartu keluarga.
  2. Akta kelahiran.
  3. Buku nikah orang tua.
  4. KTP ayah dan ibu.
  5. Paspor ayah dan ibu yang masih berlaku
  6. Surat pernyataan orang tua yang bertanggung jawab atas perjalanan anak (tanda tangan di atas materai oleh kedua orang tua).

Semua syarat tersebut difoto kopi A4, dan jangan lupa dibawa yang asli ketika datang karena akan langsung wawancara. Untuk point no6 saya juga bingung, ini suratnya nyari dimana, saya pun googling dan nemu suratnya, saya tulis ulang, saya tempel materai lalu saya tanda tangani dan saya bawa ke kantor Kanim.

Setelah itu…

  1. Hari sebelum berangkat saya telp ke Kanim Bogor untuk memastikan, saya datang dulu submit berkas kemudian nunggu jadwal wawancara, atau langsung bawa bayinya ketika datang bersamaan dengan submit berkas? kata petugas kanimnya disuruh langsung datang bawa berkas sama Bayi-nya sekalian.
  2. Saya dan istri berangkat pagi-pagi. Oya jangan lupa, tanya juga tentang jam pelayanan pengajuan paspor. Kanim Bogor untuk pengajuan paspor hanya dilayani pagi yaitu jam 08 sampai jam 12 WIB.
  3. Setelah saya sampai kanim, wuih, seperti yang saya duga, penuh sesak dengan banyak sekali orang. Hampir semua kursi tunggu di depan kantor penuh dengan Orang. Saya pun bertanya kepada salah satu petugas, dimana tempat pengajuannya.
  4. Nah setelah bilang kalau mau ngurus paspor buat Bayi, Alhamdulillah ternyata Kanim Bogor punya antrean prioritas (bayi dan lansia). Nah jadi bagi yang orang Bogor mau ngajuin paspor buat Bayi, saya sarankan gak usah repot-repot online, langsung datang saja karena ada antrean prioritas. Nah untuk kanim lain harusnya sih ada, cuman coba ditanyakan terlebih dulu. Coba saja bayangkan, saya sama istri bawah bayi usia 2 bulan terus antre begitu banyak orang, kan repot.
  5. Bapak petugas yg paling depan menyisir berkas kami, dan ternyata ada beberapa catatan sebagai berikut:
    • Foto kopi KTP Bapak Ibu dijadikan dalam satu lembar, jadi bukan dua lembar.
    • Foto kopi paspor bapak Ibu cukup yang bagian depan saja, visa, cap kedatangan ke negara lain tidak perlu di foto kopi. (tadinya saya foto kopi semua halaman yang ada isinya seperti visa dan cap kedatangan ke negara lain)
    • Surat pernyataan orang tua sudah disediakan disana, jadi surat yang sudah saya print ternyata tidak dipakai, harus pakai surat dari Kanim Bogor.
    • Mengisi form pengajuan paspor (Form nya ini juga disediakan di Kanim Bogor)
  6. Nah, beruntung di dekat situ juga ada foto kopian, jadi saya langsung sesuaikan berkasnya, mengisi form pengajuan paspor, dan surat pernyataan orang tua. (*catatan: Mungkin hal tersebut bisa jadi berbeda antar Kanim, untuk kasus saya ini Kanim Bogor)
  7. Setelah selesai langsung saya kasihkan ke bapaknya, dan bapaknya bilang, ini dapat antrean prioritas jadi langsung masuk dan bilang pengajuan paspor bayi.
  8. Kami-pun masuk dan tak perlu menunggu lama, Fatiha sama Ibunya (dengan salah satu saja ibu/bapaknya) masuk ke ruangan Foto.
  9. Nah ternyata di ruangan foto masih harus antre tapi tidak banyak, sebelumnya Fatiha bobo, jadi pas dibangunin buat foto, cepret eh setelah foto dia triak-triak nangis, langsung di bawa keluar deh sama ibunya. Al hasil saya yang masuk ke dalam untuk interview.
  10. Pas interview cuma ditanya keperluannya saja, saya bilang, saya mau lanjut S3 ke luar, jadi mau bawa keluarga. Kemudian di suruh check apakah data sudah benar apa belum, kalau sudah benar tanda tangan.

Sudah deh, saya dapat selembar kertas seperti ini.

Tinggal melakukan pembayaran sejumlah 355 ribu (pembayaran bisa di bank atau kantor pos), untuk pembayaran maksimal sampai 7 hari setelah pengajuan paspor. Kemudian pengambilan paspor bisa dilakukan setelah 7 hari dari pembayaran. Untuk pengambilan paspor harus membawa bukti pengantar pembayaran ini + bukti pembayaran dari bank.

Tanggal 14 Maret saya melakukan pengajuan paspor, 15 Maret bayar ke Bank, kemudian tanggal 28 Maret saya ambil. Jadi deh paspornya Fatiha.

Yeyeee…

Yupz.. semoga tulisan singkat ini bisa bermanfaat yah…

=============================

Bagi yg tertarik dengan tulisan saya mengenai

  1. Study di Australia [Silahkan akses ke halaman ini]
  2. Traveling alias jalan2 di Australia termasuk tempat-tempat yg harus dikunjungi [Silahkan akses ke halaman ini]
  3. Vlog tentang Kuliah/Beasiswa di Australia dan di Korea, ttg jalan-jalan kami baik di Australia dan Korea [Silahkan akses ke channel Youtube kami: Alkwangju]

Dua halaman diatas adalah kumpulan tulisan-tulisan saya ttg study dan traveling di Australia. Semoga bermanfaat!

Memaknai arti kehidupan

Menjelang tidur saya biasanya merenung, dari mulai otak saya bisa perpikir sampai sekarangpun saya selalu merenung. Merenung mengenai apa saja yang sudah saya lalukan dan apa yang akan saya lakukan kedepan. Pada akhirnya berujung pada pertanyaan, sebenarnya apa sih tujuan utama dari hidup ini? Yang pada akhirnya pula berakhir pada pertanyaan kenapa sih Tuhan menciptakan saya dan menciptakan begitu banyak manusia di bumi ini?

Mungkin diantara kawan ada yang sering mengalami hal itu. Bagi saya meluangkan waktu untuk merenungi mengenai kehidupan ini itu penting. Karena kita sering lupa, apa sebenarnya tujuan dari hidup kita ini.

Belum lama ini saya dihubungi oleh teman lama saya, dia adalah adik kelas saya. Dulu dia sering datang ke masjid Bendo (Masjid tempat saya tinggal waktu SMA), kita sering ngobrol-ngobrol ngalor ngidul yang tiada ujungnya. Rumahnya deket dengan masjid yang saya tinggali.

Dia menghubungi saya dan menanyakan mengenai makna keikhlasan….

Jadi, belum lama ini teman saya ini dirawat di rumah sakit dan sampai sekarang pun masih rawat jalan. Dia cerdas, dibuktikan dengan diterima di kampus termana di Indonesia, kemudian setelah lulus ternyata dia terindikasi ada semacam benjolan di otaknya, yang intinya harus di operasi.

Belum lama pula, saya mengunjungi teman saya yang juga teman istri saya. Dia laki-laki dan seumuran dengan saya. Sejak umur 6 tahun ginjal dia selalu kumat. Intinya sakitnya itu karena ada bagian kecil semacam saringan diantara ginjal dan kantung kemih yang tidak bekerja secara optimal sehingga ada beberapa zat dari ginjal yang seharusnya tidak terbuang ke kantong kemih tapi terbuang. Ketika kambuh, dia lemes, pucat, badannya bengkak-bengkah. Dia sudah menjalani hal ini sejak dia umur 6 tahun dan sampai sekarang dia masih sabar dengan apa yang terjadi ini.

Saya akhirnya berpikir, dulu waktu kecil sering mendengar kisah para nabi dari mulai

  1. Nabi Ayub yang terkena penyakit sampai istrinya jijik
  2. Nabi Nuh yang anak dan istrinya membangkang dan tidak menuruti nasihatnya
  3. Nabi Lut yang istrinya malah mendukung para pelaku homoseksual
  4. Nabi Ibrahim dengan diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih anaknya, dan meninggalkan anak dan istrinya di padang pasir tandus.
  5. Nabi Yunus yang terlempar di dalam perut ikan
  6. Nabi Yusuf yang begitu ganteng, sehingga digoda oleh istri raja nan cantik.
  7. Nabi Muhammad yang dicaci dimaki, dilempari batu, di tumpuki kotoran unta di punggungnya ketika sholat
  8. Nabi sulaiman yang diberi harta dan kekuasaan yang luar biasa oleh Allah

dan sebagainya…

Dulu waktu kecil saya hanya berusaha mengingat cerita-cerita itu, hanya hafal dalam otak saja tapi belum merasuk pada jiwa. Dengan bertumbuhnya akal dan tentunya makin dewasanya hati, ditambah sering pula melihat dengan mata kepala sendiri mengenai apa-apa yang ada di dunia ini, saya semakin yakin dengan tujuan hidup yang saya yakini.

Semua hal yang terjadi di dunia ini sudah terangkum semua dalam Al Qur’an. Allah sudah memberikan contoh yang begitu banyaknya dalam Al Qur’an, mengenai hal-hal yang akan terjadi dan bagaimana responnya. Andaikata hidup ini dikatakan sebagai ujian, maka Al Qur’an itu adalah kisi-kisinya. Allah sudah memberikan bocoran soalnya sekaligus jawabannya, tinggal kita mau pakai apa tidak.

Semakin saya merenung, saya jadi semakin mengerti akan tujuan hidup ini. Menurut saya inti dari kehidupan ini ada di Al Mulk ayat 2.

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Bagi saya, Allah itu akan memberikan berbagai kondisi terhadap makhluknya. Seperti yang sudah saya sebutkan diatas, ada diantara makhluknya yang diberi kondisi penyakit di otaknya, ginjalnya tidak berfungsi dengan baik, istrinya durhaka, kaya raya, gantengnya minta ampun, cuantik dan seksi.

Nah kemudian Allah tinggal lihat saja respon dari makhluknya tadi, kemudian Allah akan melihat yang mana diantara makhluknya yang paling baik amalnya.

Persoalannya, kita manusia ini, sering menganggap bahwa yang disebut sebagai ujian hanyalah misalnya : Miskin, Jelek, Cacat, Sakit, istri durhaka, tidak punya anak, bangkrut dan sebagainya.
Dan menganggap bahwa : Kaya, cantik, ganteng, pintar, merupakan nikmat dari Allah.

Bagi saya semuanya itu adalah ujian dari Allah. Saya menganggap nikmat Allah itu adalah apa-apa yang bisa menjadikan kita dekat dengan Allah, baik itu bentuknya enak menurut manusia seperti kaya, cantik, ganteng atau yang tidak enak dimata manusia seperti miskin, sakit, jelek dan sebagainya.

Banyak orang yang bisa sabar dengan berbagai macam penyakit atau kemiskinan, tapi sedikit manusia yang bisa bersyukur dengan gantengnya, cantiknya, kayanya, kemudian menjadikan semua hal yang diberi oleh Allah tersebut dimanfaatkan di jalan yang Allah kehendaki.

Yah inilah hidup kawans.

Intinya apapun kondisi yang Allah berikan pada kita, tenang saja, kita cari saja kisi-kisinya bagaimana kita harus merespon, agar Allah menerima respon kita, dan menjadikan kita golongan orang-orang yang paling baik amalnya.

Dapat istri dan anak durhaka, tinggal gunakan jawaban dari Nabi Nuh, diberi penyakit tinggal gunakan tipsnya nabi Ayub, di ganggu, dicaci ketika beribadah tinggal gunakan resepnya Nabi Muhammad SAW, ganteng atau cantik tinggal gunakan akhlaqnya Nabi Yusuf, kaya raya dan punya kuasa tinggal gunakan tips dan triknya Nabi sulaiman dan begitu seterusnya.

Jadi, apapun kondisi yang Allah berikan kepada kita, semua adalah kebaikan untuk kita kalau hal tersebut menjadikan kita lebih dekat denganNya dan respon kita sesuai dengan kehendakNya begitu pula sebaliknya.

Saya pun jadi berpikir, apa yang akan terjadi pada saya kedepan ya? tentu saya tak mengetahuinya. Yang pasti, hati saya berkata, kalau saya yang diberi kondisi seperti teman-teman saya tadi, kuatkah saya? Ya Allah…

Semoga Allah selalu memberikan keistiqomahan dalam menjalani kehidupan ini…

Amiiin…

Kelahiran anak pertama

Masih di tanggal 29 Desember 2016, yang belum baca cerita sebelumnya bisa baca dulu disini, karena belum lahir-lahir setelah dari Bidan akhirnya kita jalan-jalan ke Botani Square, ke Gramedia cari buku dan saya ke iBox untuk lihat Macbook pro yang paling baru. Kita muter-muter dan setelah capek, kita ke food court untuk makan, seperti yang sudah saya tebak, istri pesan makanan jepang. hehehe.

Istri saya adalah penggemar  mie dan makanan jepang. Saya sampai bosan menasehatinya karena dia sering makan mie. Istri saya kadang juga tidak terima kalau saya sebut mie, mie dan mie terus. Sebenarnya sih ini salah saya, karena saya tidak bisa membedakan antara mie, bihun, spageti, fettucini. Karena bagi saya yang bentuknya mirip mie ya saya sebut mie hehee. Istri saya kadang sehari cuma makan spageti, jadi kami memang cukup berbeda dalam persoalan selera, istri saya sukanya yang mie mie, eh jangan bilang mie nding hehee. Ya intinya yg mirip mie, sedang saya penyuka nasi hehe. Istri juga suka banget sop-sop an sedang saya sukanya bakaran, entah itu ayam bakar, sate, dkk, maklum lama tinggal di Jogja hobbynya makan SS.

Wah jadi ngalntur kemana-mana. Intinya setelah dari botani square kami capek banget, terus kami pulang. Ketika magrib tiba-tiba istri bilang kalau muncul flek, alhamdulillah batin saya, sepertinya sebentar lagi kami akan bertemu dengan jabang bayi ini. Saat itu istri juga belum mules, saya ya pikirnya masih lama karena ini baru tanda awal. Baik istri maupun saya sudah bertanya-tanya mengenai kelahiran anak pertama baik pada teman maupun orang tua dan pada bidan juga.

Kata orang, kelahiran anak pertama itu lama, bisa memakan waktu 12 jam dari pembukaan 1 sampai 10, jadi ya saya masih santai-santai saja. Tiba-tiba setelah saya pulang dari masjid sholat isya, istri saya sudah tiduran di kasur, katanya tadi ketika mau ngambilin makan saya, air ketubannya ngalir, wuh, saya kaget dan agak panik. Untung semua keperluan untuk melahirkan yang telah di kasih tau sama bidan sudah kami siapkan dalam tas. Kami langsung bilang ke orang tua istri, dan untungnya ada Bapak, di rumah orang tua ada beberapa mobil tapi saya belum bisa nyetir haha. Ya Alhamdulillahnya pas ada bapak soalnya malam hari. Saya kemudian telp bidannya dan bidannya bertanya kontraksinya sudah berapa menit sekali. Istri saya pun sudah menyalakan stop watch di HP untuk menghitung frekuensi kontraksinya. Saya jawab ke bidan tiap tiga menit. Bidannyapun bilang ya sudah di bawa kesini saja. Akhirnya kami antar istri ke bidan.

Jam set 9 malam kami sampai di bidan, istri kemudian di check, pas di check bidannya bilang, iya cairannya positif ketuban dan sekarang sudah pembukaan tiga. Perkiraan juga mungkin masih lama. kami pun diminta untuk ke kamar yang telah disediakan. Detik-detik kontraksi pukul setengah 10 malam itu sungguh menegangkan. Karena ketika belum pembukaan 10, kalau ada kontraksi itu tidak boleh mengejen, harus ditahan dengan ambil nafas dan buang nafas. Istri pun sudah berpesan ketika terjadi kontraksi untuk membisikkan kalimah sahadah di telingannya. Tangan sayapun sampai lecet, kerena di genggam ketika istri menahan ngejen saat kontraksi, bener-bener was-was saya saat itu. Tiba-tiba ditambah lagi istri saya muntah-muntah, wah padahal sebelum ke bidan dia juga belum makan. Habis muntah istri saya benar-benar lemes. Saya hanya selalu berdoa pada Allah agar semuanya lancar. Saya sudah bingung sebenarnya, kalau harus seperti ini sampai besok pagi bagaimana, apakah istri saya kuat? pikir saya.

Saya sudah diberi tips untuk membawa kurma, karena memang buah yang satu ini adalah sumber energi yang bagus, dan untuk memakannya pun tidak repot. Istri saya suapin kurma terus, dan Alhamdulillah tidak lemas lagi. Yang paling menegangkan adalah tiap kali kontraksi, karena saya melihat istri saya benar-benar seperti tersiksa. Kata istri saya itu rasanya pingin banget ngejen tapi harus di tahan, udah gitu perutnya juga nyeri. Ya Allah, sungguh… benar-benar mulia tugas ibu itu, saya jadi teringat mungkin karena inilah sehingga wanita dibebaskan dari berjihad di medan perang. Karena perangnya wanita ya ini, pikir saya.

Pukul 10 malam lebih, istri ngotot pingin ke toilet karena pingin BAB rasanya. Saya pun akhirnya panggil bidannya. Kemudian kami antar ke toilet sambil diawasin sama bidannya untuk hati-hati ngejennya. Setelah dari toilet, istri bilang, katanya benar-benar pingin BAB dan ngejen banget. Akhirnya sama bidannya diminta masuk ke ruang bersalin untuk diperiksa lagi. Saya mengira ya masih di pembukaan 5 atau 6 begitu karena katanya kan lama. Eh pas di periksa, tanpa ngomong apa apa, bidannya langsung memanggil bidan senior yaitu Ibu Srie Dodie, kemudian Ibu Srie mengecek lagi dan ibu srie bilang kalau istri saya sudah siap melahirkan, pembukaannya sudah sempurna.

Istri sayapun dipandu oleh bidan untuk melakukan gerakan melahirkan seperti yang sudah diajarkan di senam, kemudian kepalanya diangkat dan melihat perut. Kemudian di pandu untuk ngejen, tidak lama kemudian, tiba-tiba saya melihat ada bayi yang keluar, kemudian di lap sama bidannya, dan dibersihkan lendirinya pakai alat kemudian bayi tersebut menangis, oleh bidannya kemudian ditaruh di dada istri saya.

Sungguh, waktu itu serasa mimpi, sungguh begitu cepat. Saya benar-benar tidak menyangka akan secepat ini proses kelahirannya. Saya hanya membayangkan ketika istri saya terlihat seperti tersiksa sekali saat kontraksi, dan membayangkan kalau harus menunggu hingga pagi hari. Tepat pukul 10:35 Fatiha lahir, dengan berat 3,7 kg dan panjang 50 cm, bayi yang cukup besar untuk anak pertama dan dengan proses kelahiran normal. Setelah bayi dimandiin sama bidannya kemudian di bedong, istri saya masih rebahan (lagi dijahit) dan bayinyapun dikasih ke saya. Saya pun meng-adzani Fatiha di telinga kanannya, kemudian meng-iqomat inya di telinga kirinya. Saya berdoa pada Allah semoga anak kami ini menjadi anak sholihah.

Alhamdulillah, inilah pertolongan Allah.. saya benar-benar ingat jam 11 kita sudah balik ke kamar, melihat fatiha tidur di dalam kotak. Semalam suntuk saya tidak bisa tidur, saya melihat wajahnya fatiha, kemudian melihat ibunya, seperti itu terus menerus. Saya masih ingat sebelum istri saya datang ke bidan, sudah ada pasien lain yang mau melahirkan juga yang sudah datang terlebih dahulu, dan pasien tersebut melahirkan pukul 3 dini hari. Kata bidannya, proses kelahiran istri saya benar-benar cepat. Saya pun juga berpikir demikian, coba bayangkan habis magrib baru mulai mules, diperiksa bidan pukul setengah 9 masih pembukaan 3 dan alhamdulillah jam setengah 11 sudah lahiran.

Sungguh, kami bersyukur atas segala nikmat yang Allah karuniakan pada kami, semoga kami bisa menjadi orang tua yang amanah. Semoga kami bisa mendidik keturunan kami menjadi generasi yang sholih/sholihah yang bisa menjadi penegak kalimatNya di muka bumi ini.

fatiha-bayi

Anak kami tersebut, kami aqiqah’i dan kami beri nama Fatiha Firdausi Mafrur. Semoga kelak dia menjadi wanita sholihah dan bisa seperti harapan ayah dan bundanya pada namanya, yaitu sebagai Fatiha: pembuka, alfirdausi : surga firdaus, bagi keluarga Mafrur.

Amiin.



=============================

Bagi yg tertarik dengan tulisan saya mengenai

  1. Study di Australia [Silahkan akses ke halaman ini]
  2. Traveling alias jalan2 di Australia termasuk tempat-tempat yg harus dikunjungi [Silahkan akses ke halaman ini]
  3. Vlog tentang Kuliah/Beasiswa di Australia dan di Korea, ttg jalan-jalan kami baik di Australia dan Korea [Silahkan akses ke channel Youtube kami: Alkwangju]

Dua halaman diatas adalah kumpulan tulisan-tulisan saya ttg study dan traveling di Australia. Semoga bermanfaat!



Sudah lewat HPL bayi belum lahir

Alhamdulillah BUKU saya “24 Purnama di Negeri Ginseng” Terbit juga!!

Bagi yang mau kuliah di Korea dengan Beasiswa saya sarankan untuk membeli buku ini, karena dalam buku ini saya jelaskan bagaimana perjuangan seorang pencari beasiswa hingga akhirnya mendapatkannya, kemudian suka dan duka jadi mahasiswa di Korea itu seperti apa. Siap-siap berpetualag dan terbakar semangatnya kalau baca buku ini. Sudah bisa dibeli di toko buku kesayangan anda!

Bagi yang mau beli Online masih bisa, silahkan beli melalui link ini https://mizanstore.com/detail/59981

 
Seperti yang sudah saya ungkapkan di tulisan sebelumnya kalau HPL istri saya 25 Desember 2016. Pikir saya, wah ini anak saya kalau lahir pas tanggal itu benar-benar barengan sama natal nih ehehe. Saya juga sudah menulis mengenai kisah kegalauan kami karena disuruh caesar oleh dokter di tulisan itu, tapi kami sepakat untuk normal.

Kami sering melakukan check up ke Bidan Srie Dodi untuk memeriksa kandungan istri kami, terakhir USG juga baru baru saja dan Alhamdulillah semuanya baik untuk lahiran secara normal. Hari-hari menjelang kelahiran sungguh sangat deg-deg an. Istri sejak mulai kehamilan di bulan tujuh sudah rutin ikut senam hamil, dan di rumahpun sering yoga pula dipandu oleh tutor di Youtube hehee.

Kami sudah mempersiapkan segalanya, dimulai dari beli perlengkapan bayi dari mulai baju alat mandi, popok, dsb, kranjang bayi, tempat tidur bayi juga sudah kami siapkan, kemudian istri juga sudah buat hiasan yang di tempel di tembok bertuliskan Welcome Fatiha, dsb. Banyak hal yang sudah kami persiapan menjelang tanggal 25 Desember 2016. Tanggal 24 Desember saya di telp ibu, ibu tanya sudah ada tanda-tanda mau melahirkan belum, ya seperti mules atau keluar darah, dsb?. Tapi sayang nya istri saya biasa-biasa saja, bahkan sampai tanggal 25, kemudian 26, istri saya tidak ada tanda-tanda untuk melahirkan padahal sudah lebih dari HPL.

Kami pun yakin, insyaAllah tidak ada apa-apa, pemeriksaan terakhir semuanya baik-baik saja, bayi juga masih aktif nendang-nendang di perut ibunya. Oyah, dokter juga bilang lebih dari 60 persen bayi itu lahir tidak sesuai dengan HPL jadi bisa dua minggu sebelumnya atau satu minggu setelahnya yang penting jangan sampai lebih dari 42 minggu itu berbahaya bagi bayi karena akan terjadi pengapuran plasenta, intinya spt itu. Jadi bagi teman-teman yang mengalami kejadian seperti saya, Sudah lewat HPL bayi belum lahir, tetap tenang, jangan sampai istri stress, dan silahkan periksa kondisi bayi secara intensif ke bidan atau dokter.

Tapi jujur saja kami juga was-was, akhirnya kami ke Bidan Srie Dodie, pas di periksa ternyata katanya berat bayi sudah sampai 3,5 kg!. Haduh makin was-was jadinya kami, karena mamang untuk anak pertama harusnya sih jangan gede-gede bayinya kasihan nanti ibunya ngejennya. Tapi kami tetap berusaha tenang dan senantiasa berdoa pada Allah.

Di tanggal 29 Desember pagi setelah melewati empat hari dari HPL, kami datang ke Bidan Srie Dodie untuk senam hamil dan periksa kandungan juga, dan semuanya masih baik-baik saja cuman ya itu sepertinya harus benar-benar siap karena bayinya cukup besar. Ibu bidannya bilang, yah semoga bentar lagi bisa lahir yah. Kami hanya bisa mengamini doa dari Ibu tersebut.

Yuk baca kelanjutannya di detik-detik menjelang kelahiran jabang bayi di sini



=============================

Bagi yg tertarik dengan tulisan saya mengenai

  1. Study di Australia [Silahkan akses ke halaman ini]
  2. Traveling alias jalan2 di Australia termasuk tempat-tempat yg harus dikunjungi [Silahkan akses ke halaman ini]
  3. Vlog tentang Kuliah/Beasiswa di Australia dan di Korea, ttg jalan-jalan kami baik di Australia dan Korea [Silahkan akses ke channel Youtube kami: Alkwangju]

Dua halaman diatas adalah kumpulan tulisan-tulisan saya ttg study dan traveling di Australia. Semoga bermanfaat!



Minus diatas 6 harus operasi caesar

Sejak pertama kali taaruf, di CV-nya, istri sudah menulis bahwa dia mempunyai minus dan minusnya waktu itu 9 atau 10 dan kemungkinan besar bahwa ketika melahirkan harus di caesar.

Saat pertama kali saya membacanya saya benar-benar baru tahu ada perihal seperti itu, karena saya pernah punya teman yang dia memakai kacamata tebal dan bisa melahirkan normal tapi tentu saya kurang tau dia minus berapa. Karena background saya sebagai peneliti disamping itu saya orang IT maka pertama yang saya lakukan adalah googling. Ketika Googling dengan bahasa Indonesia memang banyak tulisan-tulisan yang menyebutkan hal itu. Wanita yang mempunya minus tinggi dan dia hamil akan sangat beresiko untuk melahirkan secara normal, resikonya adalah jaringan syaraf di retina bisa putus ketika proses melotot karena ngejen saat melahirkan.

Saya sadar kalau saya bukan dokter jadi saya tidak begitu paham akan hal itu dan saya memang bukan ahlinya, tapi saya penasaran bagaimana kalau di luar negeri? dan saya yakin ketika dokter bilang seperti itu pasti ada paper penelitiannya. Akhirnya saya mencoba untuk mencarinya dengan bahasa Inggris. Saya masuk ke forum, baca-baca komentar orang-orang dan akhirnya saya menemukan paper yang dijadikan sebagai landasan SOP tersebut. Intinya dalam SOP kalau minus diatas 6 sebaiknya di caesar jika mau melahirkan, dulu memang ada penelitian mengenai hal itu. Tapi disisi lain saya juga menemukan tulisan ilmiah/paper yang terbit sekitar tahun 2009, dimana sang peneliti melakukan penelitian dengan beberapa responden wanita hamil, hasilnya adalah tidak ada korelasi antara bahaya kebutaan bagi wanita penyandang minus tinggi dengan melahirkan secara normal.

Tapi tetap saja, kami berdua was-was, di sisi lain istri tidak mau kalau di caesar, orang tua juga menyarankan jangan di caesar, apalagi ibu saya sampai nangis ketika saya bilang bisa jadi di caesar. Ibu saya bilang, kasihan nanti pulihnya lama bisa berbulan-bulan. kalau lahiran secara normal itu habis lahir, langsung bisa jalan, mungkin sakitnya hanya seminggu kalau ada jahitannya. Hmm.. itu adalah saran dari orang tua kami.

Kami pun ketika USG dan periksa tiap bulan selalu bertanya kepada dokter mengenai hal ini. Pemeriksaan pertama kami di RS KBP Dramaga (Karya Bakti Pratiwi), kami memilih untuk periksa ke dokter kandungan yang terkenal dan senior, ketika kami bertanya masalah itu, sontak beliau langsung bilang harus caesar, titik tanpa koma.

Kami pun akhirnya memutuskan untuk ke RSIA Ummi, Salah satu dokter yang pernah kita temui di Ummi lebih bijak, beliau bilang, nanti diusia kehamilan 8 bulan atau 9 bulan coba periksa ke dokter mata, bagaimana kondisi matanya. Kalau bagus, nanti insyaAllah bisa normal, jadi memang perlu rekomendasi dari dokter mata. Saat itu kami jadi tenang, alhamdulillah masih ada harapan. Karena kami masih penasaran, kami mencoba ke RSIA melania, mencari dokter kandungan yang senior, setelah di USG kemudian di periksa kami pun menanyakan persoalan itu. Dokternya kemudian bilang, minus tinggi karena apa? bukan karena kecelakaan kan? kami jawab bukan, dokter tersebut langsung bilang normal saja, tak akan ada masalah, pasti bisa normal. Hal tersebut yang membuat kami semakin yakin, insyaAllah, Allah pasti ngasih jalan. Saya pun sebenarnya yakin, Allah sudah menciptakan wanita dengan sedemikian rupa, pasti istri saya bisa normal, sembari selalu berdoa pada Allah agar semuanya bisa lancar.

Selain persoalan minus ternyata kami juga punya persoalan lain yaitu HB istri, kepada calon ibu dan suami, silahkan bisa di check ke Lab kondisi istri ,seperti HB dan sebagainya. Dulu pada awalnya saya bingung karena sudah di trimester kedua tapi istri kadang-kadang masih sering pusing. Waktu itu saya tidak tahu, saya baru tahu penyebabnya setelah kami uji lab. Setelah di periksa di kehamilan ke tujuh ternyata istri saya HB nya 8,4 padalah untuk ibu hamil normalnya kalau tidak salah harus di atas 11 dan itu beresiko sekali. Karena ketika misalnya pas lahiran normal, kemudian darahnya banyak  yang keluar dan kondisi HB rendah itu sangat beresiko. Jadi silahkan bagi suami dan calon ibu bisa memeriksakaan kondisi istrinya ke lab. Alhamdiulillahnya karena ketahuan jadi istri disuruh banyak makan daging merah, hati, kemudian diberi suplemen penambah darah juga. Alhamdulillah di usia menjelang persalinan HB nya sudah normal.

Menjelang kelahiran, di usia kehamilan awal bulan ke 9, saya pun memeriksakan kondisi mata istri ke dokter mata di RSIA melania, prosesnya ternyata cukup lama. Pertama antreannya banyak ditambah dokternya datang dari jakarta jadi terlambat ya sudah jadinya lama banget. Ketika giliran istri saya, istri saya dipanggil untuk masuk, kemudian kita cerita ke dokternya tentang tujuan kita, ternyata kita harus keluar lagi yaitu istri saya diberi semacam obat tetes mata, setiap setengah jam sekali untuk membersihkan mata dan memperbesar apa gitu saya lupa tujuannya. Setelah beberapa kali ditetesin kemudian di periksa lagi, ditetesin lagi diperiksa lagi, akhirnya setelah ok, baru kami disuruh masuk lagi ke ruang dokternya dan saat itulah mata istri saya di periksa menggunakan alat yah kayak gitu alatnya, susah di deskripsikan. Setelah diperiksa, langsung keluar hasilnya, yaitu, kondisi syaraf di retina istri saya sangat baik, jadi tidak masalah untuk melahirkan secara normal kata dokternya. Alhamdulillah….

Istri sebenarnya pingin lahiran secara normal di RSIA Ummi karena RSnya islam, kemudian paling dekat dengan rumah. Istri pingin lahiran disana karena takut ada apa-apa dengan HBnya walaupun pas pemeriksaan terakhir sudah normal. Nah, pas kita kembali ke Ummi lagi dengan membawa surat rekomendasi dari dokter mata di Melania ternyata dokter di Ummi kurang berkenan. Dokter di Ummi meminta kami untuk check ulang lagi kondisi mata ke salah satu dokter mata senior di RSIA Ummi yang di rekomendasikan. Kami pun mengikuti sarannya, kami periksa ke dokter mata tersebut, antreannya buanyak banget, hingga nunggu berjam-jam. Akhirnya giliran istri saya juga, kamipun di panggil untuk masuk, setelah masuk ,mata istri cuman di lihat sebentar habis itu ngobrol, ketika dokternya tahu kalau kondisi istri minus 11, langsung dokter mata tersebut merekomendasikan untuk caesar tanpa pemeriksaan seperti yang dilakukan oleh dokter mata di melania. Beliau bilang, memang tidak ada indikasi, tapi resikonya tinggi jadi saya rekomendasikan untuk caesar, nah untuk keputusannya ya tetap di tanggan ibu dan bapak, jadi silahkan.

Huftt.. akhirnya kamipun galau lagi, dan saya benar-benar tahu betul bagaimana perasaan dan kesedihan istri saya waktu itu. Setelah itu kamipun datang lagi ke dokter kandungan di Ummi dan kami serahkan rekomendasi dari dokter mata di Ummi tersebut. Dokter kandungannya pun bilang, ya saya ikut rekomendasi dari dokter mata saja ya, jadi bagaimana? Kami pun bilang ke dokternya kalau kami ingin normal, tapi dokternya tidak bersedia. Setelah itu kami minta untuk di check kandungannya saja, ketika di check semuanya normal, air ketuban bagus, kepala bayi sudah masuk, tidak terlilit dan sebagainya, sebenarnya semua kondisi tersebut sangat bagus untuk normal, tapi dokter tidak berani ambil resiko karena kondisi mata istri saya.

Oyah HPL (Hari prediksi lahir) anak kami adalah 25 Desember 2016. Nah, setelah kami berdiskusi, kemudian berdiskusi dengan orang tua juga, akhirnya kami memutuskan untuk mantab mau normal saja dan di bidan saja. Istripun sudah mencari tahu mengani bidan yang recommended. Bidan Srie Dodie di belakang pasar Gunung batu, bagi yang rumahnya dekat situ silahkan di check saja. Memang rekomended banget sih!!!. Akhirnya bismillah kami berusaha untuk normal, ikhtiar dan tentu tidak lupa untuk senantiasa berdoa kepada Allah..

Yuk baca, kelanjutannya di.. Menunggu kelahiran jabang bayi

atau baca juga tulisan sebelumnya hamil pertama istri



=============================

Bagi yg tertarik dengan tulisan saya mengenai

  1. Study di Australia [Silahkan akses ke halaman ini]
  2. Traveling alias jalan2 di Australia termasuk tempat-tempat yg harus dikunjungi [Silahkan akses ke halaman ini]
  3. Vlog tentang Kuliah/Beasiswa di Australia dan di Korea, ttg jalan-jalan kami baik di Australia dan Korea [Silahkan akses ke channel Youtube kami: Alkwangju]

Dua halaman diatas adalah kumpulan tulisan-tulisan saya ttg study dan traveling di Australia. Semoga bermanfaat!



Hamil pertama istri

Harapan manusia setelah pernikahan adalah dikaruniai keturunan, itu adalah sunatullah dan pasti ada perasaan tersebut dimasing-masing insan. Begitu juga dengan kami, salah satu target saya adalah menikah sebelum usia 25 tahun dan semoga bisa segera dikaruniai keturunan, agar nanti kalau Allah memberikan saya umur panjang, diusia saya yang belum begitu tua, saya bisa menyaksikan anak-anak saya besar bahkan mereka menikah.

Sikap kami sebagai keluarga baru pasca menikah adalah pasrah, istilahnya ya ngalir saja, kami tidak langsung berusaha dengan sekuat tenaga agar segera dikaruniai anak atau sebaliknya, berusaha agar tidak segera punya anak. Alhamdulillah selang beberapa bulan setelah pernikahan ternyata Allah berikan tanda-tanda pada istri saya, kamipun melakukan pengecekan dan ternyata benar! istri saya hamil padahal sebelumnya istri saya jalan-jalan naik Gunung terus ke ladang bersama ibu saya dan dia lompat-lompat karena seblumnya dia tidak mengira kalau sudah ada janin di perutnya. Ini adalah tanda bahwa Allah percaya pada kami, semoga kami bisa menjadi orang tua yang amanah.

Oya saya benar-benar bersyukur, istri saya sangat pintar memasak, semua masakannya enak yang pernah ia masak, bahkan di awal pasca pernikahan dia mencoba memasak soto, bayangin saja soto, yang bumbunya begitu kompleks. Setelah jadi, subhanallah rasanya, soto yang paling enak yang pernah saya makan deh. Hal tersebut adalah keberuntungan bagi kami, saya tidak bisa membayakan seandainya istri saya tidak bisa masak. Istri saya termasuk orang yang gampang diare jika makan makanan di pinggir jalan. Berbeda sekali dengan suaminya ini, karena saya terlahir di kampung, besar dijalanan, maka makanan apapun, dimanapun, masuk ke perut tanpa ada masalah lanjutan. Kami pernah mencoba untuk membeli masakan di warteg di pinggir jalan, eh habis kami makan ternyata istri saya diare. Jadi, kalau mau membeli makanan diluar harus benar-benar yang istri saya pernah makan di warung tersebut karena kalau tidak nanti malah jadi repot.

Persoalan yang kami hadapi adalah skripsi, saya menikah dengan istri dengan kondisi istri belum lulus S1 dan belum mulai mengerjakan skripsi. Saya benar-benar masih ingat betapa stressnya istri ketika dia mengerjakan skripsi. Harus menghubungi responden untuk penelitiannya dengan telphone, kadang ditolak kadang diterima, dan topik penelitiannya juga unik yaitu membahas mengenai waqaf uang di Indonesia dan sudah barang tentu nyari respondennya juga tidak mudah. Saya sampai lupa berapa biaya yang kami habiskan untuk beli pulsa untuk menelphone responden. Di lain sisi ketika skripsi yang harus di kejar dia pun berhadapan dengan trimester pertama yaitu usia kehamilan 1-3 bulan, benar-benar kasihan. Sering muntah, mual, pusing, pinginnya tidur, sedangkan skripsi harus segera ia selesaikan.

Di trimester pertama ini, istri sering bilang ke saya. Mas, ini bukan karakter saya yah yang rewel ini. Sayapun tahu kalau dia memang bukan tipe wanita yang rewel. Yah maklum saya dengan istri memang sebelumnya tidak saling kenal, hanya dari proses ta’aruf yang sebentar, qodratullah Allah mempersatukan kita. Jadi memang dimasa-masa ini kami sedang berusaha memahami karakter masing-masing. Di trimester pertama ini memang istri sering banget rewel. Minta nasi padang, saya beli dua bungkus, eh pas mau makan tiba-tiba dia tidak mau makan, jadinya dua bungkus masuk ke perut saya. Minta soto yang dia suka eh sama saja dua bungkus soto akhirnya masuk ke perut saya. Yang lucu juga adalah dia masak sendiri nasi goreng, habis itu dia mual sendiri karena bau bawang dan tidak mau makan masakannya sendiri. Yah itulah trimester pertama kehamilan, mungkin diantara pembaca ada calon ibu atau calon bapak yang mengalaminya juga. Tapi hal ini hanya berlangsung tiga bulan saja, setelah itu dibulan keempat dan sampai terakhir sudah pulih seperti biasa, tidak mual-mual lagi, bedanya ya sekarang istri harus membawa beban berat di perutnya kemana-mana.

Alhamdulillah, wasyukrulillah, diusia kehamilan ke enam/enam bulan, istri bisa sidang dan secara unofficial sudah lulus dari S1nya, akhirnya lega juga.

Oya, memang benar kata orang-orang yah kalau yang namanya anak pertama itu biasanya sangat spesial. Ya gimana tidak spesial, kami adalah calon orang tua baru waktu itu, kami tidak tau apa-apa dan pasti ada rasa was-was dan sebagainya. Tiap bulan kami melakukan pemeriksaan ke dokter dan sekalian USG. Tiap dari dokter dikasih multivitamin untuk diminum tapi kadang kala habis kadang istri tidak menghabiskannya. Semua kata dokter kami berusaha untuk menurutinya, karena memang kami tidak paham apa-apa. Lha suaminya orang teknik, istrinya orang ekonomi syariah hehehe. Dulu ketika istri belum selesai skripsi kita melakukan pemeriksaan di RS karya bakti di Dramaga karena kami tinggal di dekat IPB, tapi setelah lulus karena kami balik ke Cikaret ke rumah orang tua istri, kami biasanya melakukan pemeriksaan di RSIA Ummi bogor atau di RSIA Melania Bogor karena dua rumah sakit itu yang paling dekat dengan rumah orang tua istri.

Menemani istri menjalani proses kehamilannya selama sembilan bulan benar-benar memberikan banyak hikmah bagi diri saya ini. Saya jadi ingat nasihat dari seorang ustadz, kamu tidak akan bisa merasakan apa yang orang tua mu rasakan kepadamu sebelum kamu benar-benar menjadi orang tua. Saya benar-benar jadi ingat dan paham kenapa islam benar-benar memuliakan ibu, melatakkan ibu diposisi lebih utama tiga kali daripada ayah, menjamin syahid bagi wanita yang meninggal karena melahirkan, menjadikan surga ada dibawah telapak kaki ibu, sungguh akhirnyapun saya jadi ingat ibu saya. Alangkah buruknya bila kita yang sudah besar ini tidak hormat, tidak berbakti kepada ibu, alangkah buruknya manusia yang berani melawan orang tuanya, yang berani menghardiknya, yang berani mengatakan kata-kata kotor didepannya. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang berbakti kepada orang tua kita. Amiin….

………

Silahkan bisa melanjutkan membaca kisah kami, salah satu permasalahan yang kami alami ketika proses kehamilan yaitu diancam oleh dokter untuk caesar karena istri minus 11. yuk baca disini!!!