Proses Visa Keluarga ke Australia

Semenjak saya posting tulisan “Meninggalkan keluarga demi S3” sepertinya sudah 1 tahun 9 bulan mungkin kali ya, sampai pada akhirnya visa anak dan istri saya Granted.

Sungguh pengurusan visa keluarga saya ke Australia ini tidak seperti teman pada umumnya, saya harus menanti visa istri dan anak kurang lebih 9 bulan, udah kayak nungguin anak lahir saja hehe. Gimana ceritanya? dan apa sarannya? yuk simak tulisan saya berikut ini.

Saya masih ingat waktu submit aplikasi visa istri dan anak saya itu ditanggal 21 Agustus 2018, dan baru kemarin tanggal 20 Mei 2019 Granted. Silahkan lihat gambar berikut ini.

Submit Aplikasi Visa Australia (anak dan istri) tanggal 21 Agustus 2018
Visa anak dan istri baru granted tanggal 20 May 2019

Total 9 bulan lebih penantian akhirnya granted juga. Kenapa kok bisa begini? di postingan ini saya akan mencoba menjelaskan, semoga bagi pembaca semua bisa mengambil hikmahnya khususnya bagi teman-teman yang berencana studi ke Australia dan ingin membawa keluarga.

Beasiswa saya LPDP memberikan support family allowance (tunjangan keluarga) setelah saya menjalani kuliah 1 tahun, jadi baru bisa mengajukan tunjangan keluarga setelah bulan 13. Karena itulah saya memang berencana membawa keluarga setelah 1 tahun kuliah. Sandungan lainnya juga ada yakni membayar asuransi kesehatan yang cukup besar. Saya bulan Juli membayar asuransi kesehatan keluarga sebesar 10,000 AUD atau 100 jutaan agar bisa apply visa family. Ini ceritanya gimana? ya LPDP hanya cover asuransi single (student) jadi bila kita ingin bawa keluarga jadi harus upgrade asuransi kita ke tipe family dan itu harus bayar seluruh asuransi di awal (sebelum apply visa).

Mungkin bagi teman-teman yg sudah bekerja lama di Indonesia, punya aset mobil misalnya, mereka bisa langsung berangkt bareng keluarga karena punya tabungan. Tapi apa daya saya yg baru lulus S2 dan baru nikah terus langsung punya anak hehe. Ya begitulah… tapi percaya Allah pasti ngasih jalan.

Singkat cerita, Oktober 2018 adalah bulan dimana saya akan genap 1 tahun di Australia, jadi saya berencana membawa keluarga bulan November sehingga saya bisa mengajukan tunjangan keluarga. Kalau hidup bersama keluarga dan tanpa tunjangan keluarga itu cukup berat disini karena tidak cukup living allowance yg diberikan untuk mengcover kebutuhan keluarga. Akhirnya ya itu Agustus 2018 saya apply visa dan sebelumnya Juli 2018 saya bayar asuransi 100jt rupiah hasil menabung selama 1 tahun. Cieeyyyee yang rajin menabung.

Setelah submit aplikasi VISA ke immi account, kita akan dapat HAP ID untuk dibawa ke rumah sakit yg punya kerjasama dg pemerintah australia (dulu saya dan istri/anak ke RS premier jatinegara). Setelah periksa kesehatan bisanya tinggal nunggu beberapa hari visa langsung keluar.

Buktinya? dulu saya hanya butuh 1 hari visa langsung granted. Saya masih inget, submit hari senin langsung dpt HAP ID, hari selasa periksa ke RS premier jatinegara, hari Rabu visa saya sudah granted.

Ehhh.. lah dalah, kok setelah submit aplikasi visa anak dan istri ini ditunggu 3 hari, 4 hari sampai 1 minggu kok statusnya gak ada perubahan. Saya sempat bingung, akhirnya setelah 1 minggu baru dapat telp dari RS Premier Jatinegara kalau istri saya suspect TBC.

Haduh, lansung pusing kepala saya, saya udah tau dan dengar2 dari teman-teman kalau Aussie memang sangat strict dg ini bahkan di saat mendarat di Aussie kita juga harus mengisi form declare termasuk disitu ada form ttg TBC. Saya langsung putus harapan rasanya saat itu.

Lha gimana, istri itu dulu sebelum periksa kesehatan ke RS premier jatinegara, dia udah pernah rongten di RSUD Bogor dan dinyatakan bebas TBC, saat itu istri rongten untuk persyaratan mendaftar beasiswa LPDP yg pd akhirnya gak lolos hhahaa, belum rejekinya. Ditambah istri gak ada gejala batuk, malah jarang sekali batuk dan sehat banget. Makanya saya benar2 shock. Saat itu saya langsung beli tiket dan memutuskan pulang. Kami langsung ke RS dan berdiskusi gmn kelanjutan visa istri ini. Ternyata ribetnya minta ampun.

  1. Istri harus tes sputum (dahak) kemudian nunggu 3 bulan utk melihat hasilnya (inget dulu perjuangan istri jadi sedih, karena istri sy sehat dan tdk bisa mengeluarkan dahak jadi harus diuap segala macam)
  2. Kalau hasil negatif bisa go, klo hasil positif harus treatment 6 bulan
  3. Gileee, total 9 bulan dums
  4. Belum lagi nanti processing timenya, ya Rabb.
  5. Dan yang lebih ribet dan bikin kami sedih adalah, karena kami punya anak dibawah 2 tahun. Fatiha negatif, tp karena tidak mungkin memisahkan fatiha sama ibunya. Maka ketika Ibunya nanti harus treatment, fatiha harus minum antibiotik pencegahan.
  6. Dan yang lebih repot lagi, untuk treatmentnya, setiap hari minum obatnya harus ke RS Premioer Jatinegara dan disaksikan oleh suster.
  7. Tiap 2 bulan nanti ada rongten dan sputum lagi

Ini kan rempongnya minta ampun, sampai saat itu saya sempat ingin memutuskan untuk drop out. Andai kata beasiswa saya itu dari pemerintah Australia, saya sepertinya akan out saja. Lha sudah 1 tahun ninggalin keluarga ya walaupun tiap 4 bln pulang, tp ttp saja tidak enak. Eh ini harus ditambah 9 bulan.

Saat itu saya bertnya ke dokternya terutama ttg point 1. Masa harus nunggu 3 bulan, apa tidak ada test yg cepet dan nanti bisa ketahuan status istri saya? Kata dokternya ada yakni test mantoux, jadi nanti disuntik, terus lihat efeknya klo bengkak berarti positif dan ada beberapa test lainnya semacam sputum yg cepet. Tapi semuanya harus bayar sendiri karena tidak tercover oleh biaya visa. Akhirnya kami memilih untuk itu. Dan ketika melihat hasilnya ternyata memang positif. Ya sudah berarti harus treatment 6 bulan, tapi at least kami tidak harus nunggu 3 bulan baru tau positif atau negatif.

Saya akhirnya putuskan untuk ngekosin anak dan istri di sebelah RS premier jatinegara, jalan kaki hanya 5 menitan. Karena walaupun rumah istri di Bogor, tp klo tiap hari harus ke RS premier jatinegara dan naik KRL kan yo kasihan anak. Benar-benar klo ingat masa-masa itu seakan2 kayak udah mau pulang saja, mau berhenti saja, ndak tega sih. Tapi bagaimana lagi.

Jadi ingat, ini bukan seberapa, nabi Ibrahim dulu diperintahkan oleh Allah untuk membawa istri dan anaknya yang masih bayi ke tempat tandus dan meninggalkan mereka ke situ. Cobaan sy ini masih belum sebanding rasanya.

kalau ingat cobaan ini rasanya benar2 gimana gitu, ngelihat teman2nya juga pada lancar2, eh kok ya saya dapat yang begini, tapi kadang saya mikir. Ketika saya dapat nikmat contohnya dpt beasiswa, kenapa saya jarang berpikir, eh kok saya yang dapat bukan teman sy? Nah itulah manusia mau enaknya sendiri, giliran diuji…. langsung bilang “kenapa saya” hehehe

Saya masih tidak tau apa hikmah dibalik semua ini, yang ada saya hanya yakin semua pasti ada hikmahnya, pandangan manusia terbatas sedangkan pandanganNya tak terbatas. Yang jelas dengan hidup yang naik turun hidup kita akan lebih terasa menantang dan hati akan digembleng. Coba klo hidupnya datar2 saja, semua keinginannya tercapai terus, tidak pernah mengalami kesulitan, kan yo nggak assyiiikk ta… bukankah Allah itu maha asik? hehe.

Nah untuk saran bagi teman-teman yang pingin studi di Aussie dan berencana membawa keluarga, berikut sarannya:

  1. Apply visa via agent saja, nanti tanya agent bisa gak yang test kesehatan dulu sebelum bayar asuransi? mungkin bisa kali ya silahkan bisa ditnyakan. At least ketika ada masalah seperti yg saya alami, masih bisa tanya2 agent. Lha kemaren saya gak bisa tanya siapa2, wong imigrasi aussie juga gak ada CSnya buat nanyain ini.
  2. kalau mau apply visa sendiri, korbankan beberapa rupiah untuk rongten periksa paru2 di RS Premier Jatinegara Jakarta dulu sebelum apply visa. Klo bersih, baru apply hehehe. Kalau ternyata ada suspek TB bisa nyari RS terdekat untuk treatment.
  3. Semoga teman2 tidak mengalami hal yang saya alami ini. Amiin..

Alhamdulillah setelah di granted tgl 20 Mei, hari ini Selasa 28 Mei anak dan istri saya sudah di Brisbane (tadi pagi saya jemput di Airport) hehehe, mohon doanya semoga Allah memudahkan perjalanan keluarga kami baik studinya maupun kehidupan kami disini.

Welcome to Brisbane …
Ciyee, akhirnya fatiha disetirin bapak dan duduk di car seat 🙂 hehee

Ramadhan di Australia – Bulan Toleransi

Ramadhan adalah bulan mulia, ramadhan adalah bulan perjuangan, ramadhan adalah bulannya Allah, ramadhan adalah bulan penuh kasih, ramadhan adalah bulan sosial, ramadhan adalah bulan toleransi.

Bagi umat islam, kita semua pasti paham bagaimana mulianya bulan Ramadhan ini. Hal pertama yg menarik diawal bulan ramadhan ini adalah penentuan mulainya bulan Ramadhan.

Alhamdulillah sepertinya untuk tahun ini Indonesia barengan ya baik Muhammadiyah yang menggunakan Hisab atau NU dan pemerintah yg menggunakan rukyat. Mulainya bareng yakni Senin tanggal 6 Mei 2019.

Kalau bareng itu seneng hehe, yang jadi agak repot itu kalau beda. Mungkin ada beberapa saudara kita yang masih kurang sreg dengan perbedaan sehingga mengatakan metode penentuan yg ini lebih afdhol atau lebih baik daripada yang itu. Saya kira hal itu tidak perlu karena dua2 nya juga ada hujahnya. Jadi yg ada adalah mari saling toleransi.

Berbeda dengan di Indonesia, Australia khususnya di Queensland, utk tahun ini hisab dan rukyat memberikan hasil yang berbeda. ANIC (Australian National Imams Council) seluruh australia, kalau hisab mulainya hari Senin. Sedangkan di Queensland sendiri, termasuk masjid UQ (masjid kampus saya) menganut rukyat.

Masjid UQ mengikuti Councils of Imams Queensland yang memakai metode rukyat. Mereka mengambil data dari MoonsightingAustralia! Silahkan simak Informasi dibawah ini.

ANIC – Mulai Ramadhan Senin 6 Mei 2019
Council of Imams Queensland – menggunakan rukyat – Ramadhan mulai Selasa 7 Mei 2019

Informasi dari Moonsightingaustralia – ttg posisi hilal

Dan sebenernya kondisi australia itu hampir sama dengan Indonesia, Indonesia membentang dari sabang sampai merauke, Australia juga tidak hanya negara tapi sebuah benua/continent yang membentang dari Perth sampai ke Brisbane. Jadi memang utk penentuan spt ini harus mempertimbangkan banyak hal. Dan anadaikata ada perbedaan itu harus dimaklumi.

Yang lucu dari Ramadhan tahun ini adalah Senin pagi hari saya dan teman saya harus menjemput ke Bandara salah satu Ustad dari Muhammadiyah yang akan mengisi kajian di Brisbane.

Setelah menjemput kami langsung bertolak ke rumah teman kami di Warren Street sekaligus ustad tersebut nantinya juga akan menginap di rumah teman kami itu. Dan coba lihat. Taraaa….

Ramen Ala Warren

Lucunya temen saya (dia sudah berpuasa) menjamu saya (yang belum berpuasa) dengan ramen ini. Jadi temen saya habis sampai rumah langsung masakin ramen ini. Yang gak enak lagi, ternyata Ustad dari Muhammadiyah juga puasa walaupun sedang safar. Jadi saya makan makanan yang dihidangkan oleh orang yang sudah puasa didepan mereka 🙂 dan its okey.

Indah bukan? hehhahhaa

Ya begitulah seharusnya, perbedaan itu adalah hal yang wajar! dunia tanpa ada perbedaan ya tak akan indah.

Persoalan hormat menghormati ketika Ramadhan itu juga harus kita pandang dari berbagai perspektif. Misalnya saja ada orang yg punya pandangan ketika Ramadhan semua warung harus ditutup untuk menghormati orang puasa. Kalau menurut saya, ya sebaiknya jangan! kan bisa jadi ada ibu yang hamil atau haid yang butuh ke warung, atau bapak2 yang lagi safar jadi tidak puasa. Wah kalau hidup di luar negeri atau di tempat yg muslim minoritas ya tidak ada bedanya antara ramadan dengan tidak. Kita mau puasa atau tidak ya juga tidak akan ada yg tau. Makanya memang benar puasa itu hanya untuk Allah, lha yang tau dia puasa apa tidak kan hanya dirinya dan Allah hehe 🙂 Nah dari sini kita juga harus sedikit mengurangi sifat prasangka buruk terhadap saudara kita. Misalnya kita lihat teman kita makan di warung yah mungkin karena dia lagi sakit atau safar jadi tidak puasa hahaha.

Tapi kan itu pandangan saya yang mungkin berbeda dg pandangan teman-teman disini. Nah ini saja sudah berbeda kan? ya di dunia ini kita akan menemukan banyak sekali perbedaan perbedaan. Jadi ya kita harus siap dan menikmati keindahan perbedaan itu dengan selalu memupuk rasa toleransi di diri kita dan keluarga.

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya. Semoga Allah selalu memberkahi kita semua…

Salam dari Tepian Sungai Brisbane

Rischan Mafrur

Festival Bunga di Toowoomba QLD Australia

Hi sahabat semua, entah kenapa minggu ini saya lagi cukup bersemangat untuk posting tulisan di blog ini. Kemarin saya sudah posting ttg Keindahan Alam di Stanthorpe dan Pendaftaran Beasiswa LPDP 2019.

Kali ini juga latepost sih sebenernya, ini juga tahun lalu sekitar akhir bulan September 2018 yakni ketika di Australia spring atau musim semi. Jadi bagi sahabat semua yang mau jalan-jalan ke Australia, khususnya ke Brisbane di akhir bulan September jangan lupa untuk mampir ke Toowoomba melihat festival bunga atau flower festival.

Begini ceritanya:…

Saya bersama 4 orang teman, kita rental satu mobil kemudian sepakat untuk ke Toowoomba, sebenernya agak aneh sih, ini cowo semua eh datang ke festival bunga hahaa. Ya klo bapak2 ada anak sama istri mah okey, tapi ini cowo semua lhoo. Yah walaupun begitu kami cowo tapi penyuka buka kok heheee.

Okey kembali ke topik.

Queens Park Gardens, Toowoomba, Queensland

Kurang lebih perjalanannya 1,5 jam jaraknya 120 km. Kami berangkat pagi dari kelurahan kami di St. Lucia. Seperti yang sudah kami duga, yah parkiran penuh! Karena memang festival bunga ini di tanggal tertentu yakni 20 – 29 September 2018, hanya 10 hari. Untuk tahun ini juga sepertinya ditanggal yang sama.

Langsung saja, ini oleh2 atau kenang2annya..

Toowoomba Carnival of Flowers
Laki laki pecinta Bunga hahahaha

Eehhh, setelah kita lihat festival bunga, kemudian beberapa acara di Queens Park Gardens kami juga tak lupa untuk mampir ke Japanese Garden di Toowoomba.

Padahal saya ya udah hidup 2 tahun di Korea, pernah ke Jepang juga tapi tetap penasaran juga, kaya apa sih Japanese Garden di Toowoomba, apa iya sakura bisa hidup di Australia? pikirku

Dan ternyata….

Pohon sakura di Japanese Garden di Toowoomba

Hahaha, sempet kaget sih aku, ternyata sakura bisa tumbuh di bumi Queensland dan itu penampakannya!

Japanese Garden di Toowoomba

Bagus juga pemandangannnya, worth it lah, hanya saja danaunya sedikit keruh, tapi ttp ramai pengunjung dan wildlifenya jg wild life khas australia hehe.

Setelah puas main dan jalan-jalan di Toowoomba akhirnya sore kita pulang dan namannya orang Indonesia ya, tingkahnya aneh2. Kami juga foto di icon kota Toowoomba, ini sebenernya lokasinya dipinggir jalan. Walaupun kami susah cari parkirnya tapi kalau gak foto kayaknya rugi deh. Ini hasilnya…

Toowoomba, The Garden City

Hahaha, gayanya kok kayak orang jadul sih padahal aku kan masih milenial wkwk.

Oke, sudah sampe disini dulu ya postingan kali ini, sampai ketemu di postingan berikutnya. Untuk membaca tulisan saya yang lain, baik yg serius atau yg ttg jalan-jalan di Australia bisa dibaca di sini https://mafrur.com/kuliah-di-australia/

Salam dari tepian sunga Brisbane

Rischan Mafrur

Keindahan Alam di Stanthorpe Australia

Sebenarnya ini postingan yang sangat terlambat, tapi bagaimana lagi memang kondisinya seperti ini. Menjadi mahasiswa S3 yang cukup sibuk dengan load risetnya 😦 kadang sedih sih hehee. Saya cukup sedih karena sering tidak bisa menyempatkan waktu untuk nulis blog, padahal rencananya dulu saya mau nulis novel, ini benar-benar novel ya hehe, kalau buku sebelumnya saya “24 Purnama di Negeri Ginseng” kan genrenya ndak jelas, tapi banyak banget sih testinya yg bilang sangat bermanfaat. Haduh malah promo buku hahaha.

Oke deh kembali ke Stanthorpe….

Tahun lalu tepatnya bulan Agustus saya bersama teman-teman indonesia (rata-rata mereka sudah berkeluarga bahkan anaknya sudah 2 dan 3 udah gede2), saya sendiri yang jomblo hehe, jomblo local sih karena istri dan anak belum sy ajak ke Brisbane, kita bareng-bareng piknik dan camping sekitar 5 mobil ke Stanthorpe tepatnya ke Sommerville Valley.

Sommerville Valley, Stanthrope Queensland

Kalau sahabat lihat peta diatas, tempat saya di Brisbane yang biru itu sedang tujuannya di point merah, perjalanan kurang lebih 3 jam. Ya 3 jam kalau di Indonesia gak tau baru nyampe mana hehe, kalau disini karena tidak macet jadi ya hanya perlu 3 jam kurang lebih 270 KM an lah.

Rencana kita memang mau camping, kita gak bawa tenda tapi mau nyewa cabin di sana yang katanya sangat bagus. Kemudian malamnya mau melihat milky way, kalau ada yang belum tau tinggak clik aja.

Yuk simak perjalannya,…

Ini dia rombongannya

Rombongan tim piknik Indonesia Brisbane hehe (*tidak lengkap)

Ketika di perjalanan sampai sekitaran Warwick, kita lihat ada gereja bagus, akhirnya foto deh


St Mary’s Catholic Parish Warwick

Sebelum kita ke Cabin untuk nginap, kita piknik dulu di Girraween National Park, Stanthorpe Queensland Australia, kabarnya disitu ada batu besar menggantung, dan ternyata begini penampakannya.

Girraween National Park, Stanthorpe Queensland Australia 

Pas foto, eh ternyata saya dilihatin sama Kanguru liar…

Girraween National Park, Stanthorpe Queensland Australia 

Setelah puas piknik, makan-makan, bus walking di Girraween, kita akhirnya menuju ke Sommerville Valley untuk nginep di cabin disana.


Sommerville Valley Cabin

Satu Cabin atau rumah kecil itu muat berapa ya? lupa saya wkwkw. Intinya asik deh, karena fasilitas lengkap disitu ada wifi, microwave, dapur dkk, lengkap pokoknya.

Nah saat malam hari saatnya melihat milkiway, hanya saja tak ada kamera dari kita yang bisa menangkap keindahan langit dan bintang2 waktu itu. Entah karena kameranya atau yg motret yang gak bisa? hehee. Indah banget, tidak bisa diceritakan dg kata2 deh.

Al hasil selain lihat indahnya bintang, kita juga bikin perapian, baka2 berbeque dan tidak lupa bakar ubi ahhahaa.

Sommerville Valley, perapian sampai pagi

Foto bersama dulu buat kenang2an masa tua hehee

Ini dia formasi lengkap, foto sebelum pulang

Sommerville Valley Cabin

Ceritanya bagus sih kalau buat novel, semoga nanti waktuku cukup yah ahaha. Besok tinggal giliran ngajak anak istri pergi ke tempat2 yang lebih asik.

Untuk membaca tulisan saya yang lain, baik yg serius atau yg ttg jalan-jalan di Australia bisa dibaca di sini https://mafrur.com/kuliah-di-australia/

Selamat berpetualang di Australia…
Salam dingin dari Brisbane.

Pendaftaran Beasiswa LPDP 2019

Hallo sahabat semuanya.

Salam dari Brisbane Australia yang suhunya sudah semakin dingin. Perasaan baru kemarin saya posting tentang Pendaftaran Beasiswa LPDP 2018 eh kok kemaren saya dapat broadcast dari group LPDP udah buka aja 2019. Waktu benar-benar cepat ya. Perasaan saya baru beberapa posting tulisan di blog ini deh semenjak saya nulis ttg pendaftaran LPDP 2018 itu. ehehe

Tapi ya sudah lah, semoga tahun ini saya bisa semakin produktif tidak hanya nulis paper tapi juga nulis blog, ngomong2 ini hasil saya 1 tahun di UQ, Terima kasih LPDP => https://dl.acm.org/citation.cfm?id=3271744

InsyaAllah, nanti saya buat postingan khusus lah..

Sekarang ke PENDAFTARAN BEASISWA LPDP 2019

Beasiswa LPDP ini jadi semacam primadona ya, mungkin karena sekarang sudah jadi sangat populer. Tiap tahun pasti ada perubahan baik itu list kampus tujuan, mekanisme perpindahan kampus, jenis beasiswa, mekanisme pendaftaran dan sebagainya. Yang pasti saya yakin semuanya demi kebaikan bersama dan tujuannya agar LPDP semakin baik.


Jadwal pendaftaran Beasiswa LPDP 2019

Bisa dilihat di gambar tersebut ya sahabat semua, utk yg dalam negeri teman-teman bisa mulai mendaftar tanggal 10 Mei, jadi persiapkan saja semua persyaratannya. Bagi yang mau ke luar negeri pendaftaran baru di buka tanggal 1 Juli 2019, yang jelas sama dg tahun 2018. LPDP hanya membuka 1 kali pendaftaran dalam 1 tahun, 1 untuk dalam negeri dan 1 untuk luar negeri.

Untuk list kampus tujuan luar negeri 2019 belum ada informasinya, saya barusan check ke website LPDP masih kosong.

Untuk persyaratan pendaftaran bisa lihat di sini:

Untuk jenis beasiswa lain khususnya Afirmasi (Ada prasejahtera berprestasi, santri, penyandang disabilitas, prestasi seni, prestasi olahraga bisa langsung di akses di website LPDP di Menu Beasiswa)

Selamat mencoba dan semoga sukses teman-teman

Berikut tulisan-tulisan saya mengenai seleksi LPDP saya, siapa tau berguna:

  1. S3 ku mau kemana? 
  2. Akhirnya The University of Queensland, Australia adalah kampus S3 saya.
  3. Essay sukses terbesar dalam hidupku LPDP
  4. Essay kontribusi bagi Indonesia LPDP
  5. Seleksi administrasi LPDP
  6. LGD dan Essay on the spot LPDP
  7. Pengalaman dan Tips lolos seleksi wawancara LPDP

Berikut juga saya sertakan ada beberapa video semua tentang LPDP yaitu dari mulai kenapa saya memilih LPDP, seleksi administrasi LPDP, seleksi substansi LPDP, tips lolos wawancara LPDP, pindah kampus LPDP, tips lolos LPDP, setelah lolos LPDP dan lain sebagainya.

Berikut ini playlist jadi ada beberapa video pendek. Semoga bermanfaat

Video Seleksi Beasiswa LPDP



Lebih lengkapnya utk tulisan2 saya ttg Beasiswa LPDP bisa diakses disini https://mafrur.com/beasiswa-lpdp/

Tentang kuliah S2 di Korea disini https://mafrur.com/kuliah-di-korea/

Tentang kuliah S3 di Australia di sini https://mafrur.com/kuliah-di-australia/

Semoga bermanfaat…. Sukses ya

Mengurus SKCK atau Police Clearance di Australia

Hallo sahabat semuanya, saya mau nilis lagi nih. Jadi kebetulan kemaren saya baru saja mengurus police clearance atau kalau di Indonesia biasa disebut SKCK atau Surat Keterangan Catatan Kepolisian.

Di tulisan ini saya ingin berbagi tentang pengalaman mengurus SKCK di sini ya, dan tentu sebelumnya pembaca bisa membaca disclaimer saya di sini hehe. Tentu tak bisa apple to apple ya sama Indonesia tapi kita bisa belajar banyak dari hal ini. Atau pembaca juga bisa membaca tulisan sebelumnya tentang service perpustakaan di kampus saya The University of Queensland.

Minggu lalu saya ada satu lain hal yang akhirnya memerlukan SKCK atau kalau di sini biasa disebut police clearance. Saya kira ya seperti di Indonesia namanya saja police clearance pasti saya harus datang ke kantor polisi untuk mengurusnya atau minimal online lah. Tapi ternyata saya cukup kaget hehehe.

Saya coba Googling police clearance Queensland karena saya tinggal di state Queensland. Bagi teman-teman yang tinggal di Australia saya yakin hampir sama sistemnya hanya nanti apply nya ke state masing-masing. Hasil Googlingan saya tertuju pada website resmi Police Queensland di sini.

Di website tersebut sudah sangat jelas bagaimana cara untuk mengurus police clearance. Saya sih optimise pasti simple karena data di sini pasti sudah terintegrasi. Lha visa saya saja e-visa kok, jadi tidak ditempel di paspor kayak visa-visa jadul gitu. Dan ketika masuk ke Aussie juga sudah tidak ada cap-cap di paspor. Jadi pasti data nasional sudah terintegrasi. Dan ternyata benar, simple banget! tapi ada beberapa hal yang cukup mengagetkan saya hehe.

Untuk mengurusnya tinggal ikuti petunjuk di website saja yaitu submit application online, setelah itu nanti ada onlie digital verify. Kita tinggal masukin saja nomor paspor, udah langsung bisa. Benar kan terintegrasi. Habis itu langsung mengisi alamat email dan alamat rumah, udah deh langsung tergenerate document application summary dan bisa diprint. Tampilannya seperti di bawah ini.

Saya cukup kaget kalau ternyata untuk mengurus police clearance itu saya harus ke kantor post hehe. Jadi kita tidak ke kantor polisi karena alasannya mungkin efficiency ya, kantor polisi ya hanya fokus untuk urusan kiriminal bukan administrasi. Yang teman-teman perlu tau adalah kantor post disini sangat optimal dan menjamur dimana-mana karena memang apa-apa disini kan kulturnya langsung kirim ke rumah, post, surat, online shopping itu sangat luar biasa disini. Jadi mungkin ini juga salah satu alasannya karena sangat mudah menjumpai kantor post jadi akan lebih effisien jika orang datang ke kantor post saja daripada ke kantor polisi.

Pertanyaanya masa sih ngurus police clearance dikantor post? jadi gini, dokumen application summary yang diatas itu, kita bawa ke kantor post. Di sana petugas postnya akan melakukan verifikasi identitas ke kita sebagai applicant. Kita harus bawa paspor asli kita, dan dokumen tambahan sehingga pointnya bisa 100. Saat itu saya sama petugas post diminta Debit card dan student card, harus original ya bukan copy. Jadi disini petugas post berfungsi untuk verifikasi ID saja, melihat foto dipaspor sama orangnya apa tidak dan sebagainya.

Baru deh, aplikasi itu akan dikirimkan oleh petugas post ke kantor polisi setelah dilakukan verifikasi! Begitu broohh.

Selang hanya satu hari saya mendapatkan email dari Police Queensland, dan taraa sudah jadi.

Simple banget kan? beginilah kalau data sudah terintegrasi. Polisi pasti tinggal check aja online pakai nomor paspor kita, ada track record kejahatan tidak? kalau tidak ya langsung bisa diterbitin SKCKnya. Hal ini tentu sangat berbeda dengan pengalaman saya waktu ngurus SKCK di Indonesia, tapi saya kurang tau ya sekarang hehe, semoga saja sudah lebih baik. Intinya kelemahan utama kita itu pada integrasi data. Orang punya record kejahatan kriminal di Jakarta misalnya, tinggal pulang saja ke Semarang (rumahnya, * ini hanya contoh yaaa), kemudian buat SKCK di Semarang itu pasti akan sangat mudah karena data kita belum terintegrasi. Ya kecuali kalau orang tersebut punya catatan kriminal yang luar biasa tentu akan terendus oleh polisi.

Sebenarnya konsep e-KTP itu ya mau ngikut negara-negara maju seperti ini yaitu integrasi data, tapi ehhh ya Allah. Proyeknya malah buat bancakan koruptor. Sekarang juga saya tidak tahu apakah e-KTP Indonesia bakal berguna sebagai mestinya, seingat saya waktu sebelum ke sini kita tetap diminta fotocopy KTP untuk mengurus surat surat lain hahaha. Padahal tujuannya e-KTP itu adalah single data, jadi ketika mau urus BPJS, KK, akte anak itu tak perlu lagi kita foto-copy wong tinggal masukin aja nomor KTPnya udah keluar datanya.

Satu lagi concern saya, ya karena saya orang IT, yaitu tentang dimana ini penyimpanan data e-KTP? bagaimana keamanannya? itu personal data lengkap lho. Jangan sampai data seperti itu bisa diintip oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Yah mungkin ini saja dulu sekelumit cerita saya ngurus SKCK di Queensland Australia. Sampai jumpa ditulisan berikutnya

Beginilah Perpustakaan di Kampus Luar Negeri

Halo sahabat semua.

Saya cukup lama tidak menulis blog. Di tulisan kali ini saya ingin berbagi tentang bagaimana fasilitas perpustakaan di kampus luar negeri khususnya di kampus saya yang sekarang yaitu UQ . Sebelum sahabat semua membaca tulisan ini mungkin kalian bisa baca tulisan saya sebelumnya tentang “Perlukah membandingkan Indonesia dengan Negara Lain?“, agar nanti tidak salah paham dengan tujuan saya menulis tulisan ini.

Jadi begini, salah satu tujuan saya kuliah di luar adalah untuk melilhat bagaimana sistem pendidikan di kampus tersebut, bagaimana profesional nya para staff, management, service dan sebagainya. Yang semoga nanti setelah saya balik ke Indonesia, saya mungkin bisa mencontohnya atau menularkan ke yang lain.

Pada kesempatan kali ini saya ingin sharing tentang pengalaman saya menggunakan fasilitas library di UQ. Sejujurnya saya dulu 2 tahun di Chonnam National University, Korea untuk menyelesaikan master, saya sekalipun belum pernah pergi ke perpus hehehe. Ya namanya saja orang IT, semua referensi sudah bisa diakses via online (buku, paper, journal, documentasi dsb). Hal itu ternyata juga terulang di sini hehe.

Saya sudah hampir 1 tahun di UQ dan jujur saja saya belum pernah menggunakan fasilitas perpus, lha klo nyari referensi baik itu jurnal atau prociding kan langsung online dan kampus UQ sudah subsribe ke smua jurnal2 bagus jadi tinggal download deh.

Nah, tapi kenapa saya ingin sharing tentang service di UQ library? padahal saya tidak pernah menggunakans service itu? Ya karena itulah saya pingin share, karena ini pengalaman pertama saya menggunakan service library UQ.

Jadi ceritanya begini sahabat semua. Suatu hari saya dihubungi oleh teman lama yang sekarang dia bekerja di start-up di Bandung. Dia bilang untuk keperluan pekerjaannya dia perlu membaca “Railtrack material standard” dan harganya 112 USD. Dia meminta tolong pada saya, siapa tau di UQ library dokumen ini ada, jadi intinya dia tak perlu untuk membelinya hehe.

Sebenarnya apa yang saya lakukan untuk menolongnya dari sisi policy dan ethic di kampus mungkin tidak boleh kali ya? hehe. Tapi di sini saya hanya ingin sharing bagaimana service kampus di sini! Akhirnya saya coba buka UQ online library untuk pertama kalinya.

Eh ternyata, UQ library punya chat service. Tampilannya seperti gambar di  bawah ini:

 

Di gambar tersebut juga terlihat percakapan saya dengan CS nya di UQ library dan ternyata simple banget untuk mendapatkan dokumen yang sebenarnya itu berbayar. Saya juga baru tahu bahkan di UQ, kita (student) juga bisa request sekiranya ada buku yang bagus tapi di library tidak ada, kita bisa request untuk dibelikan baik itu soft file maupun hard copy. Gileee ya.

Ya tentu kembali ke awal paragraf tadi, tak bisa kita bandingkan apple to apple dengan kampus di Indonesia. Lha di sini mayoritas students jg dari International students yang mana tuition feenya muahalnya minta ampun. Ini beasiswa saya (LPDP) mbayarin tuition fee buat saya 32.000 AUD per tahun. Ya pantes kan klo servicenya spt ini. Semua dokumen, buku, paper, dan sebagainya yang berbayar dan mahal bisa dengan mudah diakses. Ya ini lah UQ.

Setelah dapat pengalaman ini, akhirnya saya memutuskan untuk coba jalan-jalan ke Library di UQ. Istilahnya sekali-kali lah belajar di library, tidak melulu di office saja, dan memang luar biasa hehee! Library di sini di design senyaman mungkin, kalau butuh PC ada buanyak, bagi yang hanya butuh space buat belajar jg banyak banget, bahkan ada capsule (ini space buat tidur bagi yang kecapean). Bagi mahasiswa postgraduate spt saya juga bisa booking space (satu ruangan) buat belajar dan kedap suara hahaha. Dan itu smua buka 24 jam. Finally, akhirnya sekarang kadang-kadang klo saya lagi bosen belajar di office akhirnya saya pergi ke perpus!

Begitulah pengalaman seorang mahasiswa PhD yang kerjaannya hanya di office saja hahaa, udah hampir setahun di sini baru pertama kali jalan-jalan dan nyobain service di perpus 🙂

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat, atau menambah info, wawasan dan apapun itu. Sampai ketemu di tulisan-tulisan selanjutnya….